Monday, 13 November 2017

Fadzilah Dzikrul Maut

Mengingat Mati

Sering kali gebyar kemerlapan serta kemewahan duniawi mudah membuat manusia terlena. Apalagi ketika banyak perlengkapan hidup dengan segala kemajuan, kemudahan, dan kenikmatan yang seakan semakin mengepung kita di dunia.

Semua itu kerap sekali menggoda dan melalaikan manusia. Muncullah berbagai prinsip hidup materialisme (hidup hanya untuk tujuan materi), hedonisme (hidup hanya untuk tujuan kesenangan), permisivisme (serba memperbolehkan kesenangan), dan lain sebagainya. Dalam keadaan seperti itu, nasehat seseorang dianggapnya angin lalu, apalagi jika banyak teman yang mendukungnya. Mereka seakan merasa benar sendiri.

Allah Swt berfirman:

اَ لْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ٠ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرِ ٠ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ٠ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ٠ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنَ ٠ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ ٠ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنَ ٠ ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْ مَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

Artinya : "Bermegah-megahan telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak ! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian sekali-kali tidak ! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak ! Sekiranya kamu akan mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar kamubakan melihat neraka jahim. Kemudian kamu akan melihat dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)" (Q.S at-Takatsur)

Lalu apa yang dimaksud dzikrul maut?

Dzikrul maut ialah mengingat tentang kematian. Ketika kematian tiba, maka hilanglah segala kenikmatan yang telah dirasakanya. Ada seorang bijak yang mengatakan : "sesungguhnya secara umum, Allah hanya memberi satu kenikmatan saja, yakni bernapas". Begitu napas berhenti, maka berhenti pula berbagai kenikmatan yang ada.

Banyak manusia yang tidak sadar, bahwa detak jantung yang berlalu, denyut nadi yang bergetar, serta detik-detik masa yang terlewat sesungguhnya tidak lain hanyalah langkah-langkah nyata yang akan semakin mendekatkan kita pada titik takdir kematian.

Karena tidak disadari, maka kematian datangnya tampak selalu mendadak dan mengejutkan. Acapkali seseorang sedang menikmati kenikmatan dunianya, hanyut dalam kesenangan dunianya, tiba-tiba malaikat maut datang menjemput tanpa kompromi.

Dengan tiba-tiba, detakan jantungnya dihentikan buat selamanya. Kemanapun kita berlari, dan dimanapun kita berada, kematian akan datang menjemput. Karena sejatinya, kita hanya menunggu giliran.

Allah berfirman:

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذى تَفُِّرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Artinya: "katakanlah, sesungguhnya kematuan yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu. Kemudian, kamu akan dikembalikan kepada (Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata....." (Q.S al-Jumuah : 8)

Lazimnya, persepsi tentang manusia pintar ialah dia yang memiliki IQ (intelligence quotient) tinggi, menguasai iptek, kreatif dan semacamnya. Agar anaknya menjadi seperti itu, orang tua tak segan-segan mengeluarkan biaya tinggi sampai menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Kepintaran seringkali diukur oleh sederetan titel dan gelar keilmuan.

Barangkali, bila hidup itu cuma di dunia saja, maka gambaran yang demikian itu ada benarnya. Tetapi, hidup di dunia hanyalah sementara. Kelak, kehidupan di akhiratlah yang abadi. Kualitas manusia cerdas seperti itu sangat rendah. Sebab, cakupan orientasinya hanya duniawi yang juga sempit.

Baca juga: Fadzilah menuntut ilmu agama

Artinya, orang yang berhasil mengumpulkan berbagai prestasi dunia, harta melimpah serta jabatan tinggi akan sia-sia bila setelah mati justru sengsara selamanya.

Pemikiran sempit yang hanya terpaku oleh duniawi justru merupakan simbol kedunguan yang terlalu.

Untuk itu, Rasulullah Muhammad Saw memberikan rumusan yang lain. "Bahwa manusia cerdas ialah yang memperbanyak ingatanya kepada kematian. Serta memperbanyak persiapanya untuk menghadapi kematian"

Dengan mengingat mati, maka kehidupan di dunia tidak hanya untuk bersenang-senang tetapi juga untuk ladang beramal baik sebanyak-banyaknya.

"Secerdas-cerdas manusia ialah yang memperbanyak ingatanya kepada kematian. Serta, yang terbanyak persipanya untuk menghadapi kematian" (H.R Ibnu Majah)

Orang yang lupa akan kematian akan terasa berat ketika beribadah. Karena, ia dikejar-kejar oleh kenikmatan dan kemewahan duniawi. Baginya, masalah akhirat dianggap tidak berguna. Kalaupun ada niat beribadah, maka akan ditunda-tuna menunggu nanti kalau sudah tua.

Padahal, datangnya maut siapa yang tahu. Bisa jadi sore, atau malam nanti. Bila sudah saatnya, maka kita tak akan bisa menghindarinya.

"Cukuplah kematian itu sebagai penasihat" (H.R Thabrani dan Baihaqi)

Oleh karenanya maka janganlah menunda-nunda ibadah. Laksanakanlah kewajiban beribadah dengan segera seolah maut akan menjemput. Dengan demikian, ibadah akan terasa ringan.

Hawa nafsu yang selalu mencintai dunia hendakalah dikendalikan dengan mengingat mati. Dengan begitu, angan-angan tentang kemewahan dunia daoat dikendalikan. Ingatlah bahwa pakaian mahal dan indah yang kita banggakan akan ditinggalkan dan menjadi barang yang tak berguna di alam kubur.

Sebab, kain yang kita bawa hanyalah kain kafan saja. Tempat yang akan kita temapati hanyalah liang sempit yang gelap dan sendirian.

"Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang demikian itu akan menghapus dosabdan menyebabkan timbulnya kezuhudan dunia" (H.R Ibnu Abid Dunya)

Dengan menyadari keadaan masa depan yang akan kita hadapi, maka kekayaan dunia menjadi tiada arti. Dengan begitu kita akan mudah mengeluarkan zakat dan juga sedekah. Dan dengan demikian, kita akan mempunyai tabungan amal akhirat.

Baca juga : Keutamaan sedekah dan haditsnya

click to comments

0 komentar