Thursday, 19 October 2017

Sejarah Kerajaan Islam Pertama di Sumatera

Pada dasarnya, daerah Sumatera itu memang menjadi daerah yang sering disinggahi oleh para pedagang asing. Umumnya, mereka tertarik oleh hasil pertanian di daerah ini. Hasil bumi ini, seperti pala dan cengkeh yang berasal dari daerah Maluku.

Para pedagang asing yang datang pada daerah ini, biasanya para pedagang-pedagang muslim. Maka dari itu lambat laun, daerah Sumatera ini sebagian penduduknya terpengaruh oleh Agama Islam

Kerajaan Islam pertama di Sumatera

Umumnya, sebuah kerajaan islam ini bermula dari pengaruh para pedagang asing yang sebagian besar beragama islam. Para pedagang ini kemudian mulai membawa pengaruh kepada penduduk sekitar khususnya ialah Sumatera.

Umumnya, mereka tertarik karena keramah tamahan para pedagang. Lalu, dengan sukarela mereka masuk islam. Para penduduk yang beragama islam, kemudian membuat komunitas-komunitas islam lalu kemudian membuat sebuah kerajaan.

Baca juga: Sejarah masuknya Islam ke Indonesia

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan islam pertama di Indonesia ialah Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur Laut Aceh.

Kerajaan Samudera Pasai

Kemunculanya sebagai kerajaan islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim.

Raja pertama kerajaan Samudera Pasai ialah Malik Al-Saleh. Hal ini diketahui melalui tradisi Hikayat Raja-raja Pasai.

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk islam berkat pertemuanya dengan Syaikh Ismail seorang utusan Syarif Mekkah, yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Saleh.

Merah Selu adalah Putra Merah Gajah. Nama Merah merupakan gelar bangsawan yang lazim di Sumatera Utara.

Dari hikayat tersebut terdapat petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudera Pasai ialah Muara Sungai Peusangan. Ini, merupakan sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai dan muah bagi perahu-perahu maupun kapal-kapal mengayuhkam dayungnya ke pedalaman.

Pendapat bahwa Islam sudah berkembang disana sejak abad ke-13 M ini didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutlah. Seorang pengembara yang terkenal berasal dari Maroko. Ia mengunjungi Samudera Pasai pada abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 H).

Dalam kehidupan perekonomianya, kerajaan maritim ini tidak mempunyai basis agraris. Basis perekonomianya ialah perdagangan dan pelayaran. Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran itulah yang menjadi sendi-sendi penghasilan bagi kerajaan.

Samudera Pasai pada masa itu juga sudah mempunyai sebuah mata uang dirham. Mata uang dirham tersebut pernah diteliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti kerajaan Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama-nama Sultan Alaudin, Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah.

Pada tahun 1973 M ditemukan lagi 11 mata uang diantaranya bertuliskan atas nama Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah, semuanya adalah raja-raja Samudera Pasai pada abad ke-14 dan 15 M.

Kerajaam Samudera Pasai ini berlangsung sampai tahum 1524 M. Pada tahun 1521 M kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun. Kemudian, tahun 1524 M di Aneksasi oleh raja Aceh. Kemudian Samudera Pasai berada di bawah Kasultanan Aceh Darussalam.

Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaam Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama kabupaten Aceh besar. Disini pula terletak ibukotanya. 

Kasultanan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M diatas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M). Dialah yang membangun kota Aceh Darussalam.

Menurut H.J de Graaf  Aceh darussalam menerima islam dari Pasai yang menjadi wilayah bagian Aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14 M.

Menurutnya, Aceh merupakan penyatuan dua kerajaan kecil yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal. Ia juga berpendapat bahwa rajanya yang pertama ialah Ali Mughayat Syah.

Ali Mughayat Syah memperluas wilayah kekuasaanya ke daerah Pidie yang bekerja sama dengan Portugis. Kemudian ke Pasai pada tahum 1524 M. Dengan kemenangan dari dua kerajaan tersebut, Aceh dengan mudah melebarkan sayap ke daerah Sumatera Timur.

Peletak dasar kebesaran kerajaan Aceh ialah Sultan Alaudin Riayat Syah ia bergelar Al Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis, ia menjalin hubungan dengan Kerajaan Usmani di Turki.

Dengan bantuan kerajaan tersebut Aceh dapat membangun angkatan perangnya dengan baik. Tampaknya Aceh pada saat itu mengakui Kerajaan Usmani merupakan kedaulatan tertinggi.

Puncak kekuasaan Kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608-1637 M). Pada masanya, Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir timur dan barat Sumatera.

Tidak seperti Iskandar Muda yang memerintah dengan tangan besi, penggantinya Iskandar Tsani bersikap lebih liberal, lembut dan adil. Pada masanya, Aceh terus berkembang hingga beberapa tahun.

Pengetahuan agama maju dengan pesat. Akan tetapi, kematianya diikuti oleh masa-masa bencana. Tatkala beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699. Beberapa wilayah taklukanya lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah. Sehingga menjelang abad ke-18 M kasultanan Aceh merupakan bayangan belaka dari masa silam.

-Sejarah Peradaban Islam-
Oleh Dr. Badri Yatim, M.A.

click to comments

0 komentar