Saturday, 21 October 2017

Dalil Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW

Dalil Maulidiyah

Nabi Muhammad lahir pada hari Senin 20 April 571 M atau 12 Rabiul awwal tahun Gajah di kota Makkah, dari pasangan Sayyid Abdullah bin Abdul Mutholib dan Sayidah Aminah binti Wahhab. Beliau wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awwal 11 H atau 8 Juni 632 M.

Beliau merupakan seorang Nabi dan juga Rasul yang terakhir (Khotamul Anbiya'). 

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا اَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُوْلُ اللَّهِ وَخَتَمَ النَّبِيِّيْنَ

Artinya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu. Tetapi, ia adalah Rasulullah dan penutup para nabi-nabi" (Q.S Al-Ahzab : 40)

Beliau juga merupakan tuanya para Nabi dan Rasul. Kedatanganya merupakan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Beliau juga diutus untuk seluruh alam semesta dan memberi rahmat kepada mereka (Rohmatan Lil 'alamin).

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Artinya: "Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" (Q.S Al-Anbiya' : 107)

Beliau juga satu-satunya Rasul yang kelak akan memberi Syafa'at (pertolongan) di hari kiamat.  Maka, tak salah bila kita sebagai umatnya selalu mengagungkan dan mencintainya dengan sepenuh jiwa raga, sebagai sarana untuk mencapai kecintaan kepada Allah swt.

Banyak cara yang kita lakukan untuk mewujudkan kecintaan kepada beliau, seperti mengikuti ajaran-ajaranya, meniru sifat-sifat beliau yang agung, juga membaca shalawat.


Membaca shalawat juga merupakan kegiatan rutinitas umat muslim untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad saw pada bulan Rabiul 'Awwal. 

Acara ini,biasanya dimulai dengan pembacaan Al Barjanji, Mauliddiba' atau bacaan lain yang menuturkan sejarah ringkas Rasulullah saw.

Lalu, bagaimana pendapat para ulama' dengan perayaan tersebut?

Dalil tentang Maulidiyah


Sebenarnya, permasalahan diatas sudah pernah ditanyakan kepada Imam Jalaluddin as-Suyuthi 5 abad lalu, beliau menjawab bahwa maulid nabi merupakan Bid'ah Khasanah.


Alasanya, karena merupakan suatu kegiatan perwujudan untuk mengagungkan ketinggian derajat baginda Nabi Muhammad saw. Dan, orang yang melakukan hal tersebut, ia akan mendapat pahala.

Keterangan ini diambil dari kitab al-Hawi Lil Fatawi juz 1, hal 251-252. Bahkan, peringatan nabi juga merupakan kegembiraan umat atas terutusnya beliau baik sebagai rasul maupun sebagai penyelamat di hari kiamat kelak. Yang mana, kegembiraan tersebut diisi dengan pembacaan ayat-ayat alqur'an, sholawat dan sejarah ringkas beliau seperti yang disebutkan diatas. 

Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا

Artinya: "Katakanlah (Muhammad) sebab fadlal dan rahmat Allah (kepada kalian). Maka, bergembiralah kalian" (Q.S Yunus : 58)

Ayat diatas memerintahkan agar kita bergembira apabila mendapat anugerah dari Allah. Tentu saja, dengan cara dan hal-hal yang positif seperti sedeqah, membaca ayat suci bersama, dan lain-lain.

Asal usul Maulidiyah

Memang, kegiatan Maulidiyah ini bukan dari ajaran Rasulullah. Melainkan, dirintis oleh raja Muzhaffar Abu Said al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin.

Beliau, merupakan seorang raja yang shaleh dan bermahdzab Ahl Sunnah dan terkenal sangat pemurah lagi baik hati. 

Hal ini seperti keterangan al-Haawi li al-Fatawi juz 1 hal 252. Akan tetapi, peringatan hari kelahiran nabi Muhammad saw udah ada sejak dahulu. Pada saat beliau lahir, hanya saja beda dalam pelaksanaanya.

Abi Qatadah meriwayatkan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَْهِ وَسَلّمَ سُئِلَ عَنْ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدَةْ وَفِيْهِ أُنْزَلُ عَلَيَّ

Artinya: " Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari senin, maka beliau menjawab, "pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku" (H.R Muslim)

Betapa, Rasulullah sangat mengagungkan hari beliau lahir, maka wajarlah bila kita sebagai umatnya mengikuti apa yang telah menjadi kebiasaan beliau. Meskipun caranya berbeda . Akan tetapi, dalam acara Maulidiyah ini di isi dengan kegiatan-kegiatan ibadah yang dianjurkan Syari'at.

Dan lagi, ulama membenarkan penghormatan dengan cara demikian. Mereka adalah Sayyid Muhammad al-Alawi dalam Mafahim Yajibu an Tushohah hal 224-226. Dan pendapat Imam Ibnu Taimiyah dalam Manhaj as-Salaf fi fahm al-Nushus bain al-Nazhariyyah wa al-Thatbiq hal 399.

Mengenai berdiri ketika Mahallul Qiyam hal ini juga sesuai anjuran nabi, nabi menganjurkan bahwa ketika kedatangan orang agung, maka berilah penghormatan kepadanya dengan berdiri. 

Nabi Muhammad saw bersabda:

قُومُوْ إِلَى سَيِّدِكُمْ اَوْ خَيْرِكُمْ

Artinya: "Berdirilah kamu untuk tuan kalian atau orang yang paling baik diantara kamu" (H.R Abu Said Al-Khudzri dalam Shahih Muslim)

click to comments

0 komentar