Thursday, 26 October 2017

Biografi Sahabat Nabi - Khalid bin Walid

Khalid bin Walid Sang Pedang Allah


Khalid bin Walid adalah seorang panglima besar pada masa pemerintahan khulafaur rasyidin yang termashur dan ditakuti di medan perang. Tak hanya itu, Khalid bin Walid juga dijuluki Saifullah al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Ia tergolong salah satu dari panglima-panglima perang yang tidak terkalahkan.

Di bawah kepemimpinan militernyalah Arabia untuk pertama kalinya dalam sejarah membentuk entitas politik yang bersatu kekhalifahan. Bahkan, saking hebatnya ia tak terkalahkan lebih dari seratus pertempuran. Termasuk melawan kekaisaran Byzantium.

Baca: Masa pemerintahan khulafaur rasyidin

Pencapaian strategisnya adalah penaklukan Arab, Persia, Mesopotamia, dan Suriah Romawi dan dilakukan hanya dalam waktu 4 tahun. Kemenangan-kemenangan yang terkenal darinya adalah kemenangan telak pada pertempuran Yamama, Ulais, dan Firaz, serta kesuksesan taktis pada pertempuran Walaja dan Yarmuk.

Biografi Khalid bin Walid

Khalid bin Walid termasuk diantara keluarga Nabi Muhammad Saw yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid adalah istri Nabi Muhammad Saw. Dengan sahabat Umar bin Khattab, Khalid juga masih ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupu.

Suatu hari saat masih masa kanak-kanak, Khalid dan Umar main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan, kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Sebelum masuk Islam, Khalid bin Walid ialah panglima perang kaum kafir Quraisy. Ia terkenal dengan pasukan kavalerinya. Saat Perang Uhud, Khalid juga yang melihat celah kelemahan pasukan muslimin. Kaum muslimin menjadi lemah ketika bernafsu mengambil harta rampasan perang, hingga kemudian kaum muslimin turun dari bukit Uhud. Lantas kemudian Khalid menghajar pasukan muslimin saat itu. Tetapi setelah perang itulah Khalid mulai masuk islam.

Khalid bin Walid hijrah sebagai seorang muslim pada bulan Shafar tahun 8 H. Kemudian, ikut dalam peperangan dan mati syahid dalam perang Mu'tah. Ketika Khalid bin Walid masuk islam, Nabi Muhammad Saw sangat senang, karena ia mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan Kalimatulah dengan perjuangan jihad.

Keistimewaan Khalid bin Walid

Dalam suatu pertempuran, ketika ketiga pemimpin Islam mati syahid, yaitu bekas budak yang dimerdekakan oleh Zaid, keponakan Ja'far Dzul Janahain, dan Ibnu Rawahah, pasukan Islam berjuang tanpa pemimpin, sehingga Khalid mengambil alih kepemimpinan pasukan. Ia mengambil bendera, lantas menyerang musuh.

Setelah itu, Khalid bin Walid memperoleh kemenangan. Sehingga, Nabi Muhammad Saw menamainya saifullah (pedang Allah). Beliau juga bersabda, "sesungguhnya, Khalid termasuk salah satu pedang Allah yang dimunculkan untuk menghabisi orang-orang musyrik"

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid diamanahkan untuk memperluas wilayah islam. Ia pun membuat kalang kabut pasukan Romawi dan Persia. Pada tahun 636 M, pasukan Arab yang dipimpin oleh Khalid bin Walid berhasil menguasai Suriah dan Palestina dalam pertempuran Yarmuk, dan menandai dimulainya penyebaran Islam yang cepat di luar Arab.

Namun, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Khalid bin Walid diberhentikan tugasnya dari medan perang. Ia dialihkan tugas menjadi duta besar. Hal ini dilakukan oleh Umar, agar Khalid bin Walid tidak terlalu didewakan oleh kaum muslimin pada masa itu.

Khalid bin Walid hidup selama 60 tahun, dan selama itu, ia telah membunuh banyak pahlawan musuh. Ketika ia meninggal dunia di atas kasurnya, tidak ada mata para pengecut yang menangisinya. Ia meninggal di Hims pada tahun 21 H.

Diriwayatkan dari Abu az-Zinad bahwa ketika ajal hendak menjemput Khalid bin Walid, ia menangis seraya berkata, "Aku telah mengikuti perang ini dan itu dengan gagah berani. Hingga tidak ada sejengkal bagian pun ditubuhku, kecuali ada bekas sabetan pedang atau tusukan anak panah. Tetapi, mengapa aku mati di atas kasurku tanpa bisa berbuat apa-apa, seperti halnya seekor keledai?"

Kemudian Khalid bin Walid berkata lagi, " aku telah mengejar kematian di tempatnya, namun aku tidak ditakdirkan untuk mati. Kecuali di atas kasurku. Tak ada satu amalpun yang lebih aku harapkan setelah kalimat Laa ilaaha illallaah selain satu malam yang aku lalui dalam keadaan siaga, sementara langit mengguyurkan hujanya sampai pagi. Lantas pada pagi harinya kami melancarkan serangan terhadap kaum kafir."

Ketika Abu Darda' datang menjenguk Khalid bin Walid pada akhir-akhir kehidupanya, Khalid bin Walid berwasiat kepada Abu Darda', "Sesungguhnya, kuda dan senjataku sudah kuinfaqkan untuk digunakan demi jihad fii sabilillah, sementara rumahku di Madinah untuk dishadaqahkan, dan aku meminta Umar bin Khattab sebagai saksinya. Ia adalah sebaik-baik penolong terhadap islam, dan aku sudah limpahkan wasiat serta pelaksanaanya kepada Umat."

Ketika hal itu sampai kepada Umar bin Khattab, ia berucap, "semoga Allah swt, merahmati Abu Sulaiman. Sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik baginya dari yang ada padanya. Ia telah wafat dalam keadaan bahagia dan terpuji. Akan tetapi, aku lihat masa tidak akan berhenti."

Umar bin Khattab juga hadir dan ikut mengantarkan jenazah Khalid bin Walid.


-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrahman bin Abdul Karim

click to comments

0 komentar