Monday, 30 October 2017

Biografi Sahabat Nabi - Bilal bin Rabbah

Bilal bin Rabbah Sang Muadzin

Siapa orang yang tidak kenal dengan sosok orang yang berkulit hitam ini. Ia adalah pengumandang adzan pada zaman Nabi Muhammad Saw.

Ia konon memiliki suara yang sangat indah. Sehingga, sampai saat ini setiap orang yang mengumandangkan adzan di masjid-masjid dipanggilnya, Bilal.

Biografi Bilal bin Rabbah

Bilal bin Rabbah ialah termasuk salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw. Ia adalah seorang budak dari Habasyah (Ethiopia). Oleh karena itu, ia berkulit hitam.

Ia lahir di Makkah, sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia tumbuh di Makkah sebagai seorang hamba sahaya milik anak-anak yatim keluarga Bani Abdud Dar yang berada di bawah asuhan Umayyah bin Khalaf.

Bilal termasuk kelompok pertama yang masuk islam. Ia masuk Islam ketika di atas permukaan bumi hanya ada segelintir pemeluk Islam. Yaitu, Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Amar bin Yasir, dan Ibunya Sumaiyah, Shuhaib ar-Rumi, serta Miqdad bin Aswad.

Baca juga: Khalid bin Walid sang pedang Allah

Ayahnya bilal bin Rabbah bernama Rabah sedangkan ibunya bernama Hamamah. Seorang budak wanita yang tinggal di Makkah. Karena ibunya itulah sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus sauda' (putra wanita hitam).

Bilal bin Rabbah dibesarkan di kota Ummul Qura (Makkah). Ia dibesarkan sebagai seorang budak milik keluarga Bani Abdud Dar. Saat ayah mereka meninggal dunia, Bilal bin Rabbah diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf seorang tokoh penting kaum kafir Quraisy.

Keistimewaan Bilal bin Rabbah

Sebagai seorang muslim yang hidup di kalangan kaum kafir Quraisy dan juga statusnya yang masih budak, Bilal bin Rabbah kerap sekali mendapat siksaan, dan kejejaman yang mendera tubuhnya. Akan tetapi, sebagaimana kaum muslim lainya, ia tetap sabar dan bertahan di jalan Allah.

Orang-orang Islam lainya seperti Abu Bakar dan Ali masih beruntung memiliki suku serta memiliki keluarga yang dapat membela mereka. Berbeda dengam Bilal, ia tak memiliki siapapun. Sehingga, para kaum kafir Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Hal itu dijadikan contoh agar orang-orang tidak berani mengikuti jalan Bilal untuk memeluk Islam.

Kaum kafir Quraisy memang sangat kejam dalam menyiksa kaum tertindas seperti Bilal. Pernah suatu ketika, Sumayyah dibunuh oleh Abu Jahal. Pertama-tama ia dicaci maki, lalu kemudian Abu Jahal menghujamkam tombak pada perut Sumayyah hingga menembus punggung. Maka, gugurlah Syuhada' pertama dalam sejarah Islam.

Tak cukup sampai disitu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah yaitu Bilal bin Rabbah terus saja disiksa oleh kaum kafir Quraisy. Biasanya ketika terik matahari tepat diatas ubun-ubun dan padang pasir Makkah berubah menjadi perapian, orang-oramg Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang islam. Lalu memakaikan baju besi pada tubuh mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari.

Orang-orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal ialah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung Bilal dengan cambuk, namun ia hanya berkata, "ahad, ahad...."

Orang-orang Quraisy menindih dada Bilal dengan batu besar yang panas. Ketika itu ia hanya berkata, "ahad, ahad...."

Mereka semakin meningkatkan siksaanya, akan tetapi Bilal bin Rabbah tetap berucap, "ahad, ahad..."

Mereka memaksa Bilal bin Rabbah agar memuji Latta dan Uzza. Mereka terus memaksanya sambil berujar, "ikutilah yang kami katakan!"

Bilal menjawab, "lidahku tak bisa mengatakanya"

Jawaban ini membuat siksaan Bilal semakin pedih. Ketika mereka mulai bosan, Umayah bin Khalaf mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar. Lalu diserahkanya kepada orang lain. Terkadang ia menyerahkan kepada anak-anak agar menariknya di jalanan, sekaligus menyeretnya di Abthah Makkah.

Suatu ketika, Abu Bakar mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal bin Rabah. Umayah menaikkan harganya berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tak akan membelinya. Namun, ternyata Abu Bakar setuju dan kesepakatan berada di harga 9 uqiyah emas.

1 uqiyah harganya senilai 31,7475 g emas. Atau setara 7,4 dinar emas. Tinggal mengalikan saja bila 1 dinar emas seharga Rp 2.370.000,00 maka 9 x 7,4 x 2.370.000 maka, harganya kurang lebih 157 juta.

Selesai transaksi, maka Abu Bakar memberi tahu kepada Nabi Muhammad Saw. Ia menceritakan bahwa ia telah membeli budak muslim dengan harga 9 uqiyah emas. Nabi berkata, "kalau begitu biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya wahai Abu Bakar"

Abu Bakar menjawab, "aku telah memerdekakanya"

Setelah merdeka, Bilal tinggal di Madinah jauh dari siksaan kaum kafir Quraisy. Ia tinggal dengan tenang. Ia juga senantiasa mengikuti Nabi Muhammad Saw. Kemanapin beliau pergi, Bilal senantiasa bersamanya.

Ketika Nabi membangun Masjid Nabawi, Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan.

Bilal bin Rabbah juga menyertai Nabi dalam perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa Allah Swt memenuhi janjinya. Ia juga menyaksikan para pembesar Quraisy seperti Umayyah dan Abu Jahal yang tersungkur tewas terkena tombak kaum muslimin.

Ketika Nabi menaklukkan kota Makkah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama sang pengumandang langit Bilal bin Rabbah. Saat masuk ke Ka'bah beliau hanya ditemani tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah: pembawa kunci Ka'bah, Usamah bin Zaid : kekasih Nabi, dan putra dari kekasihnya Bilal bin Rabah.

Setelah Nabi menghembuskan nafas terakhir, Bilal maju dan berdiri untuk mengumandangkan adzan. Jasad Nabi masih dihadapanya.

Saat sampai kalimat , "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" tiba-tiba suaranya hilang. Kaum muslimin yang hadir disana tak kuasa menahan tangis. Maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin haru biru.

Sejak kepergian Nabi Muhammad Saw, Bilal hanya mampu mengumandangkan adzan tiga kali. Setelah kalimat , "Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah" ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya.

Oleh karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar sebagai Khalifah Nabi agar ia diperkenankan untuk tidak mengumandangkan adzan lagi. Karena, ia tidak sanggup melakukanya.

Suatu hari dalam pertemuan Al Faruq, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar kembali mengumandangkan adzan, akan tetapi mereka semua kembali menangis tersedu-tersedu karena ingat masa-masa Bilal bersama sang Nabi.

Sejak saat itu Bilal tetap tinggal Damaskus hingga wafat. Ada beberapa pendapat tentang kematian Bilal bin Rabah. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Bilal meninggal dunia pada perang Badar tahun 20 H.

-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrahman bin Abdul Karim

click to comments

0 komentar