Wednesday, 27 September 2017

Kisah Renungan Kejujuran Seorang Hamba

penjaga kebun yang jujur
img via teddybearspicnic.net
Berikut ini ialah kisah seorang tabi'in , namanya ialah Mubarak. Dulu, Mubarak ini seorang hamba atau budak. Tuanya memerdekakan dirinya karena keluhuran pekerti dan kejujuranya.

Setelah Mubarak merdeka, ia bekerja pada seseorang yang kaya raya. Orang itu memiliki kebun delima yang sangat luas. Dan ia bekerja sebagai penjaga kebun itu. Keramahan serta kehalusan tutur sapanya, membuat ia disenangi semua temanya dan juga pendududk sekitar kebun.

Baca juga: Kisah hikmah berbakti kepada orang tua

Suatu hari pemilik kebun memanggilnya dan berkata, "Mubarak,tolong petikkan buah delima yang manis dan masak!"

Mubarak seketika itu bergegas menuju kebun. Ia memetikkan beberapa buah dan membawanya pada tuanya. Ia lalu menyerahkan buah itu kepada tuanya.

Majikanya mencoba buah itu dengan semangat. Namun, apa yang terjadi ? Ternyata delima yang dipetik Mubarak rasanya masam dan belum masak.

Pemilik kebun itu gusar dan berkata, "apakah kau tidak dapat membedakan mana yang masak dan mana yang belum?"
"Mana yang manis dan mana yang masam?"

"Maafkan saya tuan, saya sama sekali belum pernah merasakan delima. Bagaimana saya bisa merasakan mana yang manis dan mana yang masam" jawab Mubarak

"Apa? Kamu sudah sekian tahun bekerja disini dan menjaga kebun delima yang luas yang telah berpuluh kali berbuah lalu sekarang kau katakan belum merasakan delima. Kau berani berkata seperti itu?" Pemilik kebun itu marah karena merasa dipermainkan.

"Demi Allah! Tuan , saya tidak pernah memetik satu butir buah delima pun. Bukankah anda hanya memerintahkan saya menjaganya dan tidak memberi izin pada saya untuk memakanya?" Lirih Mubarak.

Mendengar ucapan iti, pemilik kebun tersentak. Namun ia tidak langsung percaya begitu saja. Lalu ia pergi kepada teman-teman Mubarak dan tetangga di sekitarnya tentang kebenaran ucapan Mubarak. Teman-temanya mengakui tidak pernah melihat Mubarak makan buah delima. Begitu pula tetangganya.

Seorang temanya bersaksi, "ia seorang yang jujur, selama ini tidak pernah berbohong. Jika ia mengatakan tidak pernah makan satu buahpun sejak ia bekerja disini, maka itu benar"

Kejadian itu benar-benar menyentuh hati sang pemilik kebun. Diam-diam ia kagum dengan kejujuran pekerjanya itu. Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali memanggil Mubarak, "Mubarak, sekali lagi apakah benar kau tidak makan satu buahpun selama menjaga kebun ini?"

"Benar tuan" jawab Mubarak.

"Berilah aku alasan yang bisa kuterima!"

"Aku tidak tahu , apakah tuan akan menerima penjelasanku apa tidak. Yang jelas, saat aku pertama kali datang untuk menjaga kebun ini, tuan mengatakan tugas saya hanya menjaga. Itu akadnya. Tuan tidak mengatakan aku boleh merasakan delima yang aku jaga. Selama ini aku menjaga agar perutku tidak dimasuki makanan yang syubhat apalagi haram. Bagiku, karena tidak ada izin yang jelas dari tuan, maka aku tidak boleh memakanya"

"Meskipun itu buah yang jauh di tanah, Mubarak?" Tanya tuanya.

"Ya, meskipun delima yang jatuh di tanah. Sebab itu bukan milikku, tidak halal bagiku. Kecuali jika pemiliknya mengizinkan aku boleh memakanya"

Kedua mata pemilik kebun itu berkaca-kaca. Ia sangat tersentuh dan terharu. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan dan berkata "Hai Mubarak, aku hanya memiliki seorang anak perempuan. Menurutku aku mengawinkanya dengan siapa?"

Mubarak menjawab, "orang-orang yahudi mengawinkan anaknya dengan seseorang karena harta. Orang nasrani mengawinkan karena keindahan. Dan orang Arab mengawinkan karena nasab dan keturunanya. Sedangkan orang Muslim mengawinkan anaknya pada seseorang karena melihat iman dan taqwanya. Anda tinggal memilih , mau masuk golongan yang mana? Dan kawinkanlah putrimu dengan orang yang tuan anggap satu golongan"

Pemilik kebun berkata, "aku rasa tidak ada orang yang lebih bertaqwa daripada kamu"

Akhirnya, pemilik kebun itu mengawinkan putrinya dengan Mubarak. Putri pemilik kebun itu ternyata gadis yang cantik yang solehah dan cerdas.

Ia hafal Alquran dan sunnah Nabinya. Dengan kejujuran dan ketaqwaan, Mubarak memperoleh nikmat yang agung dari Allah swt.

Ia hidup dalam surga cinta. Dari pasangan itu maka lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdullah.

Baru, setelah dewasa anak ini dikenal dengan sebutan "Imam Abdullah bin Mubarak"

Ia adalah seorang ulama' dikalangan tabi'in yang sangat terkenal. Selain dikenal sebagai ahli hadits, Imam Abdullah bin Mubarak juga dikenal sebagai ahli zuhud.

Kedalaman dan ketaqwaanya dikenal , banyak diakui ulama' pada zamanya.

Inilah buah kebahagiaan yang berasaskan taqwa. Semoga kita dianugerahi kebahagiaan yang berasaskan ketaqwaan.

click to comments

0 komentar