Cara Mengqadha Shalat Karena Haid

Haid dan Qadha' Shalat

Haid atau menstruasi memang sudah tidak bisa dihindari lagi bagi kalangan kaum wanita. Hal itu sudah menjadi takdir bagi semua wanita yang normal untuk mengalami yang namanya haid.

Apa yang dimaksud haid?

Haid adalah pengeluaran darah dari organ reproduksi wanita yang berasal dari dinding rahim perempuan.

Haid ini menjadi ciri kedewasaan seirang wanita. Pada umumnya wanita akan mengeluarkan darah haid pada umur 9-12 tahun.

Darah haid ini akan keluar terus menerus, maka hukumnya haram bagi wanita untuk mengerjakan shalat.

Masa haid ini akan dialami wanita selama paling sedikit satu hari satu malam (24 jam), pada umumnya akan dialami selama 7 hari, dan paling lama ialah 15 hari. Dan selebihnya maka dianggap darah istihadloh (darah kotor).

Mengqadha' shalat karena haid

Pada dasarnya, para ulama sepakat bahwa wanita tidak wajib shalat selama hari haidnya demikian juga tidak wajib mengqadha'nya. 

Hal ini sesuai hadits Muadz ra:

سَأَلْتُ عَائسَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِى الصّلَاةَ ٠ فَقَالَتْ أَحَرُوْرِيّةٌ اَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بَِحَرُوْرِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ ٠ قَالَتْ كَانَ يُصِيْبُنَا ذَالِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

Artinya : "aku pernah bertanya kepada ibu Aisyah ra , mengapa wanita haid mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' sholat? Ibu Aisyah berkata, "Apakah kamu Haruriyyah? Aku berkata , "aku bukan Haruriyyah, namun aku bertanya? Ibu Aisyah berkata lagi kami menglami hal itu dan diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' sholat. (H.R Bukhori)

Itulah keistimewaan wanita yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang pria. Seirang pria tetap harus mengqadha' puasa dan shalatnya ketika ia meninggalkannya. Namun berbeda dengan wanita, ia tidak wajib mengqadha' shalat ketika ia mengalami haid. Itulah kemurahan Allah Swt untuk wanita. Mengingat beban berat wanita ketika ia sedang hamil hingga 9 bulan lamanya kelak.

Lalu disini muncul dua masalah, 
  1. Suci dari haid sebelum keluar waktu sholat
  2. Permulaan haid setelah masuk waktu shalat namun belum melaksanakan shalat
Suci dari haid sebelum keluar waktu shalat

Jika diperhatikan, dari masalah ini biasanya orang akan menganggap shalatnya pada waktu tersebut masih tidak wajib. Padahal itu sudah wajib, karena ia sudah mampet dari darah haid. Artinya sudah suci.

Misal saja, jam 13:15 wib ia sudah suci dari haidz atau sudah tidak terasa mengeluarkan darah, maka artinya ia sudah wajib shalat.

Akan tetapi ia masih bermalas-malasan dan tidak menyegerakan mandi dan melaksanakan kewajiban shalat hingga masuk waktu ashar, maka ia wajib mengqadha' shalat dzuhur.

Namun permasalahanya, apakah apakah suci itu dihitung sesudah ia mandi atau ketika darah mampet?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa wanita haid wajib melakukan shalat yang ia suci di tengah waktunya, misal waktu dzuhur jam 13:00 ia suci.

Namun suci yang dimaksud itu sesudah mandi atau setelah darah mampet?

Bagaiman kalau darah mampet di akhir waktu shalat sedangkan tidak cukup waktu untul mandi dan wudlu?

Apakah wajib qadha'?

Pendapat pertama:
Syaratnya harus tersedia waktu yang cukup untuk mandi. Apabila ia suci di akhir waktu shalat, sedangkan tidak cukup waktu untuk mandi dan wudlu, maka tidak wajib shalat.
-
Demikian pendapat Imam Malik dalam kitab Al-Kaafi, 1/62 dan juga Imam Al Auza'i dalam kitab Al-Muhalla 2/239,

Pendapat Kedua:
Dua dianggap suci dan tidak ada bedanya antara ia sudah mandi atau belum mandi.
-
Hal ini menurut pendapat Imam Ats-Tsauri dalam kitab Al-Muhadzab 1/60

Maka jika ingin hati-hati peganglah pendapat kedua karena pendapatnya jauh lebih rajih (kuat).

Disamping itu, masih ada juga keleluasaan waktu atau waktu rahmat yang diberika oleh Rasulullah Saw. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.

مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ اَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الصُّبْحَ ٠ وَمَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ اَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الْعَصْرَ

Artinya: "Barangsiapa mendapat satu rakaat shalat subuh sebelum terbit matahari, maka ia telah mendapat shalat subuh. Barangsiapa mendaoat satu rakaat shalat Asar sebelum terbenam matahari, maka ia telah mendapat shalat Asar" (H.R Bukhori)

Permulaan Haid setelah masuk waktu shalat dan belum melaksanakan shalat

Dalam masalah ini semua ulama berpendapat bahwa ia wajib mengqadha' shalat yang ia tinggalkan. Mengingat sudah adanya hadits waktu rahmat diatas.

Lagi pula Rasulullah Saw sudah mengemukakan bahwa waktu terbaik untuk shalat ialah waktu awal (waktu pilihan).

Dengan begitu artinya, ia hanya menyepelekan shalat tersebut. Adapun dalil yang mewajibkan untuk mengqadha' shalat sudah termaktub dalam kitab Al Mughni 2/47, Al Muhadzab 1/60.

Related Posts:

Fadzilah Dzikrul Maut

Mengingat Mati

Sering kali gebyar kemerlapan serta kemewahan duniawi mudah membuat manusia terlena. Apalagi ketika banyak perlengkapan hidup dengan segala kemajuan, kemudahan, dan kenikmatan yang seakan semakin mengepung kita di dunia.

Semua itu kerap sekali menggoda dan melalaikan manusia. Muncullah berbagai prinsip hidup materialisme (hidup hanya untuk tujuan materi), hedonisme (hidup hanya untuk tujuan kesenangan), permisivisme (serba memperbolehkan kesenangan), dan lain sebagainya. Dalam keadaan seperti itu, nasehat seseorang dianggapnya angin lalu, apalagi jika banyak teman yang mendukungnya. Mereka seakan merasa benar sendiri.

Allah Swt berfirman:

اَ لْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ٠ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرِ ٠ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ٠ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ٠ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنَ ٠ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ ٠ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنَ ٠ ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْ مَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

Artinya : "Bermegah-megahan telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak ! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian sekali-kali tidak ! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak ! Sekiranya kamu akan mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar kamubakan melihat neraka jahim. Kemudian kamu akan melihat dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)" (Q.S at-Takatsur)

Lalu apa yang dimaksud dzikrul maut?

Dzikrul maut ialah mengingat tentang kematian. Ketika kematian tiba, maka hilanglah segala kenikmatan yang telah dirasakanya. Ada seorang bijak yang mengatakan : "sesungguhnya secara umum, Allah hanya memberi satu kenikmatan saja, yakni bernapas". Begitu napas berhenti, maka berhenti pula berbagai kenikmatan yang ada.

Banyak manusia yang tidak sadar, bahwa detak jantung yang berlalu, denyut nadi yang bergetar, serta detik-detik masa yang terlewat sesungguhnya tidak lain hanyalah langkah-langkah nyata yang akan semakin mendekatkan kita pada titik takdir kematian.

Karena tidak disadari, maka kematian datangnya tampak selalu mendadak dan mengejutkan. Acapkali seseorang sedang menikmati kenikmatan dunianya, hanyut dalam kesenangan dunianya, tiba-tiba malaikat maut datang menjemput tanpa kompromi.

Dengan tiba-tiba, detakan jantungnya dihentikan buat selamanya. Kemanapun kita berlari, dan dimanapun kita berada, kematian akan datang menjemput. Karena sejatinya, kita hanya menunggu giliran.

Allah berfirman:

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذى تَفُِّرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Artinya: "katakanlah, sesungguhnya kematuan yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu. Kemudian, kamu akan dikembalikan kepada (Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata....." (Q.S al-Jumuah : 8)

Lazimnya, persepsi tentang manusia pintar ialah dia yang memiliki IQ (intelligence quotient) tinggi, menguasai iptek, kreatif dan semacamnya. Agar anaknya menjadi seperti itu, orang tua tak segan-segan mengeluarkan biaya tinggi sampai menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Kepintaran seringkali diukur oleh sederetan titel dan gelar keilmuan.

Barangkali, bila hidup itu cuma di dunia saja, maka gambaran yang demikian itu ada benarnya. Tetapi, hidup di dunia hanyalah sementara. Kelak, kehidupan di akhiratlah yang abadi. Kualitas manusia cerdas seperti itu sangat rendah. Sebab, cakupan orientasinya hanya duniawi yang juga sempit.

Baca juga: Fadzilah menuntut ilmu agama

Artinya, orang yang berhasil mengumpulkan berbagai prestasi dunia, harta melimpah serta jabatan tinggi akan sia-sia bila setelah mati justru sengsara selamanya.

Pemikiran sempit yang hanya terpaku oleh duniawi justru merupakan simbol kedunguan yang terlalu.

Untuk itu, Rasulullah Muhammad Saw memberikan rumusan yang lain. "Bahwa manusia cerdas ialah yang memperbanyak ingatanya kepada kematian. Serta memperbanyak persiapanya untuk menghadapi kematian"

Dengan mengingat mati, maka kehidupan di dunia tidak hanya untuk bersenang-senang tetapi juga untuk ladang beramal baik sebanyak-banyaknya.

"Secerdas-cerdas manusia ialah yang memperbanyak ingatanya kepada kematian. Serta, yang terbanyak persipanya untuk menghadapi kematian" (H.R Ibnu Majah)

Orang yang lupa akan kematian akan terasa berat ketika beribadah. Karena, ia dikejar-kejar oleh kenikmatan dan kemewahan duniawi. Baginya, masalah akhirat dianggap tidak berguna. Kalaupun ada niat beribadah, maka akan ditunda-tuna menunggu nanti kalau sudah tua.

Padahal, datangnya maut siapa yang tahu. Bisa jadi sore, atau malam nanti. Bila sudah saatnya, maka kita tak akan bisa menghindarinya.

"Cukuplah kematian itu sebagai penasihat" (H.R Thabrani dan Baihaqi)

Oleh karenanya maka janganlah menunda-nunda ibadah. Laksanakanlah kewajiban beribadah dengan segera seolah maut akan menjemput. Dengan demikian, ibadah akan terasa ringan.

Hawa nafsu yang selalu mencintai dunia hendakalah dikendalikan dengan mengingat mati. Dengan begitu, angan-angan tentang kemewahan dunia daoat dikendalikan. Ingatlah bahwa pakaian mahal dan indah yang kita banggakan akan ditinggalkan dan menjadi barang yang tak berguna di alam kubur.

Sebab, kain yang kita bawa hanyalah kain kafan saja. Tempat yang akan kita temapati hanyalah liang sempit yang gelap dan sendirian.

"Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang demikian itu akan menghapus dosabdan menyebabkan timbulnya kezuhudan dunia" (H.R Ibnu Abid Dunya)

Dengan menyadari keadaan masa depan yang akan kita hadapi, maka kekayaan dunia menjadi tiada arti. Dengan begitu kita akan mudah mengeluarkan zakat dan juga sedekah. Dan dengan demikian, kita akan mempunyai tabungan amal akhirat.

Baca juga : Keutamaan sedekah dan haditsnya

Related Posts:

Biografi Sahabat Nabi - Abu Dzar al-Ghifari

Abu Dzar al-Ghifari sang penyendiri

Sebelum masuk islam, Abu Dzar al-Ghifari ia adalah seorang perompak. Perompak ialah orang yang suka merampok.

Sasaranya adalah para kabilah (pedagang) yang melewati padang pasir. Suku Ghifar memang sudah dikenal sebagai "binatang buas malam" dan "hantu kegelapan". Jika bertemu dengan mereka, jarang sekali orang yang selamat dari perampokan.

Biografi Abu Dzar al-Ghifari

Abu Dzar al-Ghifari ini terlahir dengan nama Jundab bin Junadah bin Sufyan al-Ghifari. Tetapi, ia dikenal dengan sebutan Abu Dzar al-Ghifari. Ia adalah sahabat nabi Muhammad Saw yang berasal dari suku Ghifar dan termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam.

Suku Ghifar memang dikenal sebagai suku perompak. Tak lain juga Abu Dzar al-Ghifari ini. Ia mewarisi karier ayahnya sebagai pemimpin besar perompak kafilah yang melewati jalur perdagangan Makkah-Suriah yang telah lama dikuasai oleh suku Ghifar.

Meskipun melakukan perbuatan jahat, akan tetapi hati kecil Abu Dzar al-Ghifari sebenarnya menolaknya. Akhirnya, ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya.

Baca juga : Saa'ad bin Abi Waqash sang bangsawan yang masuk Islam

Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Namun, kaumnya marah dan memusuhinya.

Abu Dzar al-Ghifari akhirnya pindah bersama ibunya ke Nejd. Saudara laki-lakinya juga diajaknya serta. Di tempat yang baru, ia menghadapi penduduk Nejd yang suka berbuat onar. Penduduk setempat juga mengusirnya, akhirnya ia pindah ke sebuah perkampungan dekat Makkah.

Tiba di perkampungan tersebut tak lama kemudian Abu Dzar ini mendengar tentang ajaran Nabi Muhammad Saw dan akhirnya ia menyatakan untuk masuk Islam.

Keistimewaan Abu Dzar al-Ghifari

Abu Dzar al-Ghifari ini mempunyai sifat pemberani, terus terang, dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendirianya.

Ia mendapat hidayah dari Allah Swt di kala rasulullah berdakwah secara diam-diam. Dan baru ada 10 orang yang masuk Islam termasuk ia sendiri.

Baru saja masuk Islam, Abu Dzar sangat bersemangat. Tanpa menunda lagi, ia pergi ke Masjidil Haram dan mengucapkan dua kalimah Syahadat dengan suara keras.

Suara itu menggelegar dan di dengar oleh para pembesar Quraisy yang tengah menyembah berhala. Sontak hal tersebut membuat gelisah dan akhirnya mengejar Abu Dzar.

Mungkin saat itu ajal Abu Dzar hampir tiba, namun ia diselamatkan oleh Abbas bin Abdul Muthallib yang berkata, "wahai orang-orang Quraisy! Kalian adalah bangsa pedagang yang mau tak mau akan melewati perkampungan Bani Ghifar. Orang inu adalah salah satu warganya. Ia bisa saja menghasut kaumnya untuk merampok kalian kelak."

Mendengar hal itu, akhirnya kaum Quraisy segera membebaskan Abu Dzar yang tubuhnya sudah membengkak. Akan tetapi Abu Dzar tak hanya sampai disitu, ia terus mengejek berhala secara terang-terangan.

Suatu hari penduduk Madinah dikejutkan dengan kedatangan rombongan besar. Mereka semua bertakbir. Bila saja mereka tidak bertakbir, maka mereka bisa saja disangkanya rombongan musuh. Karena saking banyaknya rombongan tersebut.

Setelah ditanya ternyata mereka ialah kaum Bani Ghifar dan Bani Aslam. Mereka semua telah diislamkan oleh Abu Dzar al-Ghifari. Tak terkecuali baik itu wanita, ana-anak, remaja maupun tua dan muda mereka semua ada dalam rombongan.

Sedemikian gigih dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Nabi Muhammad Saw merasa kagum dan menyatakan pujianya.

Tak lama kemudian, Nabi Muhammad Saw pun wafat. Setelah itu Abu Dzar beserta kaumnya hidup tenang di masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Namun, pada masa Utsman bin Affan, Abu Dzar al-Ghifari mulai gelisah. Hal ini dikarenakan mulai banyak pejabat yang tertarik kemewahan dunia. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan sifat Abu Dzar.

Baca : Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin

Orang-orang yang paling tidak disukainya ialah oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Utsman bin Affan. Seperti, Marwan bin Hakam, Muawiyah bin Abi Sufyan, dan lainya.

Sebenrnya, Abu Dzar bisa saja langsung menghantam orang-orang yang hidup bermewah-mewahan tersebut. Namun, ia selalu ingat pesan baginda Nabi, "bersabarlah wahai Abu Dzar, sampai engkau menemuiku"

Maka, Abu Dzar menyimpan pedangnya dan berseru "katakanlah kepada penumpuk harta, mereka kelak akan disetrika oleh api neraka"

Karena merasa nasihatnya tidak digubris, Abu Dzar beserta istrinya mengasingkan diri di Rabadzah hingga ia wafat. Di tempat itulah jenazah Abu Dzar disholati oleh kaum muslimin yang lewat.

Maka, benarlah sabda Nabi Muhammad Saw, "engkau berjalan seorang diri, mati seorang diri, dan dibangkitkan pula kelak seorang diri (karena keistimewaany)"

-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrahman bin Abdul Karim

Related Posts:

Biografi Sahabat Nabi - Sa'ad bin Abi Waqqash

Sa'ad Bin Waqqash

Sa'ad bin Abi Waqqash adalah termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam dansalah satu sahabat penting Nabi Muhammad Saw.

"Aku adalah orang ketiga yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah," demikianlah Sa'ad bin Abi Waqqash mengenalkan dirinya.

Biografi Sa'ad bin Abi Waqqash

Sa'ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf hidup di tengah-tengah Bani Zahrah, yang merupakan paman Nabi Muhammad Saw. Wuhaib adalah kakek Sa'ad dan paman Aminah binti Wahab, ibunda Nabi Muhammad Saw.

Baca juga: Kisah Khalid bin Walid Sang Pedang Allah

Sa'ad bin Abi Waqqash dikenal banyak orang karena ia adalah paman Nabi Muhammad Saw. Dan, Nabi Muhammad Saw sangat bangga dengan keberanian, kekuatan, serta ketulusan iman Sa'ad bin Abi Waqqash.

Nabi Muhammad Saw, bersabda "ini adalah pamanku, maka perlihatkan kepadaku paman kalian!"

Sa'ad bin Abi Waqqash berasal dari klan Bani Zuhrah dari Quraisy. Ia termasuk dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Ia juga sangat disayangi oleh orangtuanya, terutama ibunya.

Begitu juga Sa'ad ia juga termasuk salah seorang yang sangat patuh terhadap ibunya. Sedemikian sayangnya, sehingga seolah-olah cintanya hanya untuk ibunya.

Ibunya Sa'ad bernama Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah. Sang ibu adalah wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy yang memiliki wajah cantik dan anggun.

Baca juga: Kisah hikmah berbakti kepada orang tua

Meskipun Sa'ad berasal dari Makkah, ia sangat benci kepada agamanya dan masyarakatnya. Ia membenci praktik penyembahan berhala yang membudaya di Makkah saat itu.

Keistimewaan Saad bin Abi Waqqash

Pada suatu hari, Abu Bakar ash-Shiddiq mendatangi Sa'ad bin Abi Waqqash di tempat kerjanya dan membawa berita dari langit tentang diutusnya Nabi Muhammad Saw, sebagai rasul-Nya.

Ketika Sa'ad bin Abi Waqqash bertanya, "siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Nabi Muhammad Saw," maka Abu Bakar mengatakan dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

Seruan tersebut mengetuk kalbu Sa'ad bin Abi Waqqash untuk menemui Nabi Muhammad Saw, lantas mengucapkan dua kalimat syahadat . Ia pun memeluk agama Allah saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia termasuk dalam deretan laki-laki pertama uang memeluk islam selain Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Zaid bin Haritsah.

Setelah memeluk islam, keadaan Sa'ad bin Abi Waqqaash tidak jauh berbeda dengan keislaman para sahabat lainya. Ibunya sangat marah dengan keislaman Sa'ad bin Abi Waqqash.

"Wahai Sa'ad, apakah engkau rela meninggalkan agamamu dan agama bapakmu, untuk mengikuti agama baru itu? Demi Allah aku tidak akan makan dan minum sebelum engkau meninggalkan agama barumu itu," ancam sang ibu.

Sa'ad bin Abi Waqqash menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku!"

Sang ibu tetap nekat,karena ia mengetahui persis bahwa Sa'ad bin Abi Waqqash sangat menyayanginya. Sang ibu mengira, hati Sa'ad bin Abi Waqqash akan luluh jika melihatnya dalam keadaan lemah dan sakit. Ia tetap mengancam akan terus melakukan mogok makan.

Namun Sa'ad bn Abi Waqqash lebih mencintai Allah dan rasul-Nya.

"Wahai ibunda, demi Allah, seandainya engkau memiliki 70 nyawa dan keluar satu persl satu, aku tidak akan pernah mau meninggalkan agamaku selamanya!" tegas Sa'ad bin Abi Waqqash.

Akhirnya, sang ibu yakin anaknya tidak mungkin kembali seperti sedia kala. Ia pun hanya dirundung kesedihan dan kebencian.

Allah Swt mengekalkan peristiwa yang dialami oleh Sa'ad bin Abi Waqqash dalam ayat al-Qur'an:

"Dan jika kedunanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik...." (Q.S Luqman : 15)

Sa'ad bin Abi Waqqash adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan orang yamg mula-mula terkena anak panah. Ia hampir selalu menyertai Nabi Muhammad Saw dalam setiap pertempuran.

Ia juga orang yang dijamin oleh Nabi Muhammad Saw dengan jaminan kedua orang tua beliau.

Dalam perang Uhud, Nabi Muhammad Saw bersabda "panahlah, wahai Sa'ad! Ayah dan Ibuku menjadi jaminan bagimu"

Sa'ad bin Abi Waqqash juga merupakan pemimpin perang ketika melakukan peperangan melawan kekaisaran Persia. Kepahlawanan Sa'ad bin Abi Waqqash tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan melawan tentara Persia di Qadisiyyah.

Baca juga: Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin

Peperangan ini termasuk salah satu peperangan terbesar umat Islam. Bersama 3000 pasukanya ia berangkat menuju Qadisiyyah.

Diantara mereka terdapat 99 veteran perang Badar, 300 orang lebih ikut Ba'iat Ridwan di Hudaibiyah, 300 orang diantara mereka ikut serta dalam Fathul Makkah bersama Nabi Muhammad Saw. Lalu ada 700 orang putra para sahabat. Serta, ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan.

Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah dekat Hira. Untuk melawan pasukan muslim, pasukan Persia yang siap tempur berjumlah 120.000 orang dibawah panglima kenamaan mereka, Rustum.

Sebelum berperang, atas instruksi Umar bin Khattab yang menjadi Khilafah saat itu, Sa'ad bin Abi Waqqash mengirim surat kepada Kaisar Persia, Yazdagird dan Rustum yang isinya ialah undangan untuk masuk Islam.

Delegasi pertama yang mengirim surat ialah An-Numan bin Muqarrin. Ia pulang dengan tangan hampa, dan malah menjadi bahan ejekan Yazdagird.

Delegasi kedua ialah Rubiy bin Aamir. Ia juga malah ditawari oleh Rustum keindahan duniawi. Namun Rubiy menjanjikan kepada mereka keindahan yang dimiliki oleh Allah Swt yaitu Surga. Akan tetapi mereka tetap pada pendirianya.

Mendengar hal itu, Sa'ad bin Abi Waqqash menangis karena harus terjadi perang. Saat itu Saal'ad tiba-tiba jatuh sakit karena memikirkan harus berperang yang akan mengakibatkan gugurnya banyak orang. Namun ia mulai berangsur sembuh karena dalam hatinya ia yakin bahwa hal tersebut memang sudah kehendak Allah dan juga sudah tertulis dalam kitab Zabur dan Alqur'an (Q.S al-Anbiya : 105) tentang bumi yang akan dikuasai oleh orang-orang Shalih.

Ia lalu bangkit berganti pakaian dan menunaikan sholat zuhur. Lantas dengan membaca takbir ia bersama pasukanya memulai peperangan tanpa henti selama 4 hari.

Peperangan menimbulkan korban 2000 muslim dan 10.000 orang Persia. Dan akhirnya dimenangkan oleh kubu muslim.

Peperangan Qadisiyyah merupakan salah satu peperangan terbesar karena korban yang gugur lebih 30.000 orang.

Sa'ad bin Abi Waqqash juga salah satu sahabat yang dijanjikan masuk surga sebagai mana yang diceritakan oleh Anas bin Malik ra.

Nabi bersabda, "sebentar lagi akan muncul laki-laki penghuni surga dihadapan kalian"

Tiba-tiba datanglah Sa'ad bin Abi Waqqash. Hal itu terjadi berulang sampai tiga kali dan tiga hari.

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa'ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki umur 80 tahun. Dalam keadaan sakit, ia berpesan kepada para sahabatnya, agar ia dikafani dengan jubah yang dikenakanya dalam Perang Badar.

Akhirnya Sang Pemanah pertama Saad bin Abi Waqqash menghembuskan napas terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dikuburkan di pequburan Baqi makam para Syuhada'.

-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrahman bin Abdul Qarim

Related Posts:

Biografi Sahabat Nabi - Bilal bin Rabbah

Bilal bin Rabbah Sang Muadzin

Siapa orang yang tidak kenal dengan sosok orang yang berkulit hitam ini. Ia adalah pengumandang adzan pada zaman Nabi Muhammad Saw.

Ia konon memiliki suara yang sangat indah. Sehingga, sampai saat ini setiap orang yang mengumandangkan adzan di masjid-masjid dipanggilnya, Bilal.

Biografi Bilal bin Rabbah

Bilal bin Rabbah ialah termasuk salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw. Ia adalah seorang budak dari Habasyah (Ethiopia). Oleh karena itu, ia berkulit hitam.

Ia lahir di Makkah, sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia tumbuh di Makkah sebagai seorang hamba sahaya milik anak-anak yatim keluarga Bani Abdud Dar yang berada di bawah asuhan Umayyah bin Khalaf.

Bilal termasuk kelompok pertama yang masuk islam. Ia masuk Islam ketika di atas permukaan bumi hanya ada segelintir pemeluk Islam. Yaitu, Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Amar bin Yasir, dan Ibunya Sumaiyah, Shuhaib ar-Rumi, serta Miqdad bin Aswad.

Baca juga: Khalid bin Walid sang pedang Allah

Ayahnya bilal bin Rabbah bernama Rabah sedangkan ibunya bernama Hamamah. Seorang budak wanita yang tinggal di Makkah. Karena ibunya itulah sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus sauda' (putra wanita hitam).

Bilal bin Rabbah dibesarkan di kota Ummul Qura (Makkah). Ia dibesarkan sebagai seorang budak milik keluarga Bani Abdud Dar. Saat ayah mereka meninggal dunia, Bilal bin Rabbah diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf seorang tokoh penting kaum kafir Quraisy.

Keistimewaan Bilal bin Rabbah

Sebagai seorang muslim yang hidup di kalangan kaum kafir Quraisy dan juga statusnya yang masih budak, Bilal bin Rabbah kerap sekali mendapat siksaan, dan kejejaman yang mendera tubuhnya. Akan tetapi, sebagaimana kaum muslim lainya, ia tetap sabar dan bertahan di jalan Allah.

Orang-orang Islam lainya seperti Abu Bakar dan Ali masih beruntung memiliki suku serta memiliki keluarga yang dapat membela mereka. Berbeda dengam Bilal, ia tak memiliki siapapun. Sehingga, para kaum kafir Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Hal itu dijadikan contoh agar orang-orang tidak berani mengikuti jalan Bilal untuk memeluk Islam.

Kaum kafir Quraisy memang sangat kejam dalam menyiksa kaum tertindas seperti Bilal. Pernah suatu ketika, Sumayyah dibunuh oleh Abu Jahal. Pertama-tama ia dicaci maki, lalu kemudian Abu Jahal menghujamkam tombak pada perut Sumayyah hingga menembus punggung. Maka, gugurlah Syuhada' pertama dalam sejarah Islam.

Tak cukup sampai disitu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah yaitu Bilal bin Rabbah terus saja disiksa oleh kaum kafir Quraisy. Biasanya ketika terik matahari tepat diatas ubun-ubun dan padang pasir Makkah berubah menjadi perapian, orang-oramg Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang islam. Lalu memakaikan baju besi pada tubuh mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari.

Orang-orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal ialah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung Bilal dengan cambuk, namun ia hanya berkata, "ahad, ahad...."

Orang-orang Quraisy menindih dada Bilal dengan batu besar yang panas. Ketika itu ia hanya berkata, "ahad, ahad...."

Mereka semakin meningkatkan siksaanya, akan tetapi Bilal bin Rabbah tetap berucap, "ahad, ahad..."

Mereka memaksa Bilal bin Rabbah agar memuji Latta dan Uzza. Mereka terus memaksanya sambil berujar, "ikutilah yang kami katakan!"

Bilal menjawab, "lidahku tak bisa mengatakanya"

Jawaban ini membuat siksaan Bilal semakin pedih. Ketika mereka mulai bosan, Umayah bin Khalaf mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar. Lalu diserahkanya kepada orang lain. Terkadang ia menyerahkan kepada anak-anak agar menariknya di jalanan, sekaligus menyeretnya di Abthah Makkah.

Suatu ketika, Abu Bakar mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal bin Rabah. Umayah menaikkan harganya berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tak akan membelinya. Namun, ternyata Abu Bakar setuju dan kesepakatan berada di harga 9 uqiyah emas.

1 uqiyah harganya senilai 31,7475 g emas. Atau setara 7,4 dinar emas. Tinggal mengalikan saja bila 1 dinar emas seharga Rp 2.370.000,00 maka 9 x 7,4 x 2.370.000 maka, harganya kurang lebih 157 juta.

Selesai transaksi, maka Abu Bakar memberi tahu kepada Nabi Muhammad Saw. Ia menceritakan bahwa ia telah membeli budak muslim dengan harga 9 uqiyah emas. Nabi berkata, "kalau begitu biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya wahai Abu Bakar"

Abu Bakar menjawab, "aku telah memerdekakanya"

Setelah merdeka, Bilal tinggal di Madinah jauh dari siksaan kaum kafir Quraisy. Ia tinggal dengan tenang. Ia juga senantiasa mengikuti Nabi Muhammad Saw. Kemanapin beliau pergi, Bilal senantiasa bersamanya.

Ketika Nabi membangun Masjid Nabawi, Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan.

Bilal bin Rabbah juga menyertai Nabi dalam perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa Allah Swt memenuhi janjinya. Ia juga menyaksikan para pembesar Quraisy seperti Umayyah dan Abu Jahal yang tersungkur tewas terkena tombak kaum muslimin.

Ketika Nabi menaklukkan kota Makkah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama sang pengumandang langit Bilal bin Rabbah. Saat masuk ke Ka'bah beliau hanya ditemani tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah: pembawa kunci Ka'bah, Usamah bin Zaid : kekasih Nabi, dan putra dari kekasihnya Bilal bin Rabah.

Setelah Nabi menghembuskan nafas terakhir, Bilal maju dan berdiri untuk mengumandangkan adzan. Jasad Nabi masih dihadapanya.

Saat sampai kalimat , "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" tiba-tiba suaranya hilang. Kaum muslimin yang hadir disana tak kuasa menahan tangis. Maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin haru biru.

Sejak kepergian Nabi Muhammad Saw, Bilal hanya mampu mengumandangkan adzan tiga kali. Setelah kalimat , "Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah" ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya.

Oleh karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar sebagai Khalifah Nabi agar ia diperkenankan untuk tidak mengumandangkan adzan lagi. Karena, ia tidak sanggup melakukanya.

Suatu hari dalam pertemuan Al Faruq, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar kembali mengumandangkan adzan, akan tetapi mereka semua kembali menangis tersedu-tersedu karena ingat masa-masa Bilal bersama sang Nabi.

Sejak saat itu Bilal tetap tinggal Damaskus hingga wafat. Ada beberapa pendapat tentang kematian Bilal bin Rabah. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Bilal meninggal dunia pada perang Badar tahun 20 H.

-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrahman bin Abdul Karim

Related Posts:

Biografi Sahabat Nabi - Abu Hurairah

Abu Hurairah Perawi Hadits

Abu Hurairah ialah seorang tokoh perawi hadits yang terkenal. Ia merupakan penghafal hadits yang paling ulung di kalangan para sahabat Nabi Muhammad Saw.

Semenjak memeluk Islam, ia sangat akrab dengan beliau Nabi Muhammad Saw. Ia banyak mengikuti aktivitas dakwah beliau. Bahkan kemanapun beliau dakwah, ia selalu mengikutinya. Ia juga dikaruniai oleh Allah berupa daya ingatan yang kuat. Oleh karena itu, ia dapat meriwayatkan banyak hadits Nabi Muhammad Saw.

Biografi Abu Hurairah

Abu Hurairah berasal dari kabilah Al-Dusi. Yaitu, sebuah suku yang berdiam di Yaman. Ia merupakan anak yatim yang hanya tinggal bersama ibunya semenjak kecil.

Ia lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sudah sejak kecil menjadi yatim. Ketika mudanya, ia bekerja kepada Basrah binti Ghazawan yang kemudian, setelah masuk islam dinikahinya.

Nama lengkap Abu Hurairah ialah Abdurrahman bin Sakhr ad-Dausi. Yang oaling terkenal ialah kuniah dirinya yaitu Abu Hir.

Nama itu didapat karena beliau mempunyai kebiasaan bermain dengan seekor kucing kecil yang ia punya. Ketika siang dan sore hari ia selalu bermain bersama kucing tersebut sambil menggembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kerabatnya.

Abu Hurairah meninggal pada tahun 57 atau 58 H ketika berumur 78 tahun. Abu Hurairah dimakamkan di pekuburan Baqi.

Keistimewaan Abu Hurairah

Diriwayatkan atsar oleh Tirmidzi dengan sanad yang mauquf hingga Abu Hurairah, bahwa Abdullah bin Rafi' berkata, "Aku bertanya kepada Abu Hurairah, "Mengapa engkau bernama kuniah Abu Hurairah?" ia menjawab, "Apa yang engkau khawatirkan dariku?" Aku berucap, "Sungguh aku khawatir terhadapmu" Abu Hurairah berujar,"Aku dahulu bekerja menggembalakan kambing keluargaku, dan di sisiku ada seekor kucing kecil (hurairah). Lalu, ketika malam tiba, aku menaruhnya di sebatang pohon. Jika hari telah siang, aku pergi ke pohon itu, dan aku bermain-main denganya. Maka, aku diberi kuniah Abu Hurairah (bapaknya si kucing kecil).

Ahli hadits telah sepakat bahwa Abu Hurairah ialah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Abu Muhammad bin Hazm mengatakan bahwa dalam Musnad Baqiy bin Makhlad terdapat lebih dari 5300 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.


Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabt maupun tabi'in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, dan ia adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Namun, bukan berarti ia paling utama diantara para sahabat Nabi Muhammad Saw.

Imam Syafi'i berkata, "Abu Hurairah ialah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamanya (masa sahabat)."

Abu Saud al-Khudri berkata bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda, "Abu Hurairah adalah bejana ilmu pengetahuan."

Abu Hurairah masuk islam antara setelah perjanjian Hudaibiyah dan sebelum Perang Khaibar. Konon, ia memeluk Islam melalui Tufail bin Amru.

Tufail bin Amru ialah seorang pemimpin Bani Daus yang kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. Dan kemudian ia menjadi Muslim. 

Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu Hurairah segera menyatakan ketertarikanya, meskipun sebagian besar kaumnya saat itu menolak.

Ketika Abu Hurairah pergi bersama Tufail bin Amru ke Makkah, Nabi Muhammad Saw mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba yang pengasih).

Ia tinggal bersama dengan kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelim bergabung dengan kaum Muhajirin di Madinah. Ia pernah meminta kepada Nabi Muhammad Saw, agar mendoakan ibunya masuk Islam. Yang akhirnya terjadi. Ia selalu menyertai beliau sampai dengan wafatnya beliau.

Abu Hurairah termasuk salah satu diantara kaum fakir Muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan. Yang sering disebut Ahlush Suffah, dengan tempat tinggal di depan Masjid Nabawi. Abu Hurairah mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Said bin Musyyib salah seorang tokoh tabi'in terkemuka.

Pada zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah pernah pernah menolak tawaran untuk menjadi gubernur Madinah. Saat terjadi pertempuran antara Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib. Abu Hurairah mengambil sikap netral dan menghindari fitnah.

Abu Hurairah mempunyai daya ingat yang luar biasa. Pernah suatu ketika, khalifah Marwan bin Hakam mencoba menguji daya ingat Abu Hurairah. Khalifah Marwan bin Hakam mengundang Abu Hurairah ke suatu majelis. Ia diminta untuk membacakan beberapa hadits. Seorang juru tulis Marwan mencatat hadits itu, tanoa sepengetahuan Abu Hurairah.

Tahun berikutnya, sekali lagi Khalifah Marwan bin Hakam mengundangnya ke majelis tersebut. Ia diminta kembali membacakan hadits yang sama yang ia sebutkan tahun sebelumnya. Ia oun membacakan hadits yang sama tanpa ada kesalahan sedikitpun.

Abu Hurairah disebutkan telah meriwayatkan 5.374 hadits. Haditsnya yang disepakati oleh Bukhari  dan Muslim sebanyak 325 hadits. Sementara itu, Bukhari meriwayatkan 93 hadits, dan Muslim meriwayatkan 189 hadits.

-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrohman bin Abdul Karim

Related Posts:

Biografi Sahabat Nabi - Khalid bin Walid

Khalid bin Walid Sang Pedang Allah


Khalid bin Walid adalah seorang panglima besar pada masa pemerintahan khulafaur rasyidin yang termashur dan ditakuti di medan perang. Tak hanya itu, Khalid bin Walid juga dijuluki Saifullah al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Ia tergolong salah satu dari panglima-panglima perang yang tidak terkalahkan.

Di bawah kepemimpinan militernyalah Arabia untuk pertama kalinya dalam sejarah membentuk entitas politik yang bersatu kekhalifahan. Bahkan, saking hebatnya ia tak terkalahkan lebih dari seratus pertempuran. Termasuk melawan kekaisaran Byzantium.

Baca: Masa pemerintahan khulafaur rasyidin

Pencapaian strategisnya adalah penaklukan Arab, Persia, Mesopotamia, dan Suriah Romawi dan dilakukan hanya dalam waktu 4 tahun. Kemenangan-kemenangan yang terkenal darinya adalah kemenangan telak pada pertempuran Yamama, Ulais, dan Firaz, serta kesuksesan taktis pada pertempuran Walaja dan Yarmuk.

Biografi Khalid bin Walid

Khalid bin Walid termasuk diantara keluarga Nabi Muhammad Saw yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid adalah istri Nabi Muhammad Saw. Dengan sahabat Umar bin Khattab, Khalid juga masih ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupu.

Suatu hari saat masih masa kanak-kanak, Khalid dan Umar main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan, kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Sebelum masuk Islam, Khalid bin Walid ialah panglima perang kaum kafir Quraisy. Ia terkenal dengan pasukan kavalerinya. Saat Perang Uhud, Khalid juga yang melihat celah kelemahan pasukan muslimin. Kaum muslimin menjadi lemah ketika bernafsu mengambil harta rampasan perang, hingga kemudian kaum muslimin turun dari bukit Uhud. Lantas kemudian Khalid menghajar pasukan muslimin saat itu. Tetapi setelah perang itulah Khalid mulai masuk islam.

Khalid bin Walid hijrah sebagai seorang muslim pada bulan Shafar tahun 8 H. Kemudian, ikut dalam peperangan dan mati syahid dalam perang Mu'tah. Ketika Khalid bin Walid masuk islam, Nabi Muhammad Saw sangat senang, karena ia mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan Kalimatulah dengan perjuangan jihad.

Keistimewaan Khalid bin Walid

Dalam suatu pertempuran, ketika ketiga pemimpin Islam mati syahid, yaitu bekas budak yang dimerdekakan oleh Zaid, keponakan Ja'far Dzul Janahain, dan Ibnu Rawahah, pasukan Islam berjuang tanpa pemimpin, sehingga Khalid mengambil alih kepemimpinan pasukan. Ia mengambil bendera, lantas menyerang musuh.

Setelah itu, Khalid bin Walid memperoleh kemenangan. Sehingga, Nabi Muhammad Saw menamainya saifullah (pedang Allah). Beliau juga bersabda, "sesungguhnya, Khalid termasuk salah satu pedang Allah yang dimunculkan untuk menghabisi orang-orang musyrik"

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid diamanahkan untuk memperluas wilayah islam. Ia pun membuat kalang kabut pasukan Romawi dan Persia. Pada tahun 636 M, pasukan Arab yang dipimpin oleh Khalid bin Walid berhasil menguasai Suriah dan Palestina dalam pertempuran Yarmuk, dan menandai dimulainya penyebaran Islam yang cepat di luar Arab.

Namun, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Khalid bin Walid diberhentikan tugasnya dari medan perang. Ia dialihkan tugas menjadi duta besar. Hal ini dilakukan oleh Umar, agar Khalid bin Walid tidak terlalu didewakan oleh kaum muslimin pada masa itu.

Khalid bin Walid hidup selama 60 tahun, dan selama itu, ia telah membunuh banyak pahlawan musuh. Ketika ia meninggal dunia di atas kasurnya, tidak ada mata para pengecut yang menangisinya. Ia meninggal di Hims pada tahun 21 H.

Diriwayatkan dari Abu az-Zinad bahwa ketika ajal hendak menjemput Khalid bin Walid, ia menangis seraya berkata, "Aku telah mengikuti perang ini dan itu dengan gagah berani. Hingga tidak ada sejengkal bagian pun ditubuhku, kecuali ada bekas sabetan pedang atau tusukan anak panah. Tetapi, mengapa aku mati di atas kasurku tanpa bisa berbuat apa-apa, seperti halnya seekor keledai?"

Kemudian Khalid bin Walid berkata lagi, " aku telah mengejar kematian di tempatnya, namun aku tidak ditakdirkan untuk mati. Kecuali di atas kasurku. Tak ada satu amalpun yang lebih aku harapkan setelah kalimat Laa ilaaha illallaah selain satu malam yang aku lalui dalam keadaan siaga, sementara langit mengguyurkan hujanya sampai pagi. Lantas pada pagi harinya kami melancarkan serangan terhadap kaum kafir."

Ketika Abu Darda' datang menjenguk Khalid bin Walid pada akhir-akhir kehidupanya, Khalid bin Walid berwasiat kepada Abu Darda', "Sesungguhnya, kuda dan senjataku sudah kuinfaqkan untuk digunakan demi jihad fii sabilillah, sementara rumahku di Madinah untuk dishadaqahkan, dan aku meminta Umar bin Khattab sebagai saksinya. Ia adalah sebaik-baik penolong terhadap islam, dan aku sudah limpahkan wasiat serta pelaksanaanya kepada Umat."

Ketika hal itu sampai kepada Umar bin Khattab, ia berucap, "semoga Allah swt, merahmati Abu Sulaiman. Sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik baginya dari yang ada padanya. Ia telah wafat dalam keadaan bahagia dan terpuji. Akan tetapi, aku lihat masa tidak akan berhenti."

Umar bin Khattab juga hadir dan ikut mengantarkan jenazah Khalid bin Walid.


-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrahman bin Abdul Karim

Related Posts:

Biografi Sahabat Abdullah bin Mas'ud

Biografi Abdullah bin Mas'ud

Abdullah bin Mas'ud ialah satu-satunya sahabat yang darinya, Nabi Muhammad saw ingin mendengar bacaan al-Qur'an. Ia adalah sosok guru tafsir besar dan qiro'ah di kota Kuffah. Imam-imam besar dari kalangan Tabi'in belajar membaca al-Qur'an darinya.

Abdullah bin Mas'ud pernah berkata, "Aku telah menghafal dari mulut Nabi Muhammad Saw sebanyak tujuh puluh surat."

Mengenal Abdullah bin Mas'ud

Abdullah bin Mas'ud memiliki nama lengkap Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil Abu 'Abdirrahman al-Hadzali al-Maki al-Muhajiri. Ia termasuk salah salah satu penghimpun al-Quran pada masa Nabi Muhammad Saw. Dan membacakan di hadapan beliau.

Abdullah bin Mas'ud selalu mengikuti Nabi Muhammad Saw sejak usia belia. Pendengaranya senantiasa dihiasi dengan ayat-ayat al-Qur'an langsung dari Nabi Muhammad Saw. Kiprahnya dalam memelihara al-Qur'an tidak perlu diragukan lagi. Itulah sebabnya, ia menjadi ulama yang paling mengetahui tentang al-Qur'an. Tak heran, bila Nabi Muhammad Saw memujinya dan sekaligus menganjurkan kepada para sahabat dan orang-orang setelahnya untuk mempelajari kandungan al-Qur'an darinya.

Awal pertama Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Abdullah bin Mas'ud ialah pada masa awal risalah kenabian turun di kota Makkah. Saat beliau berjalan dengan sahabat Abu Bakar ash-Shidiq. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Abdullah bin Mas'ud yang sedang menggembalakan kambing. Pada kesempatan itu, Abdullah bin Mas'ud memberikan air minum berupa susu kambing. Pertemuan itu, tidak dapat dilupakan oleh beliau Nabi Muhammad Saw, karena saat itu terjadi, islam masih berkembang pesat.

Baca juga: Keteladanan sahabat Abu Bakar

Setelah pertemuan tersebut, ada keinginan kuat dari Abdullah bin Mas'ud untyk mendengarkan bacaan ayat-ayat suci al-Qur'an dari Nabi Muhammad Saw. Begitu pula, dengan keteladanan nabi serta akhlaqul karimah beliau yang terus dicermati oleh Abdullah bin Mas'ud sehari-hari.

Setelah itu, ada kesadaran dari Abdullah bin Mas'ud untuk memeluk agama islam, sekaligus menjalankannya dengan ketulusan dan penuh keikhlasan. Setiap hari, ia pun terus menimba agama islam yang ketika itu, dipusatkan di rumah Al-Arqam bin Abul Arqam.

Diskusi dengan nabi Muhammad Saw pun terus berlangsung, ketika Abdullah bin Mas'ud minta diajari sesuatu dari Nabi Muhammad Saw. Beliau pun mengajarinya. Beliau melihat kecerdasan dan kemauan yang kuat dari Abdullah bin Mas'ud. Maka, beliau pun menyanjungnya, "Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang berpengetahuan."

Pada suatu hari, Nabi Muhammad Saw memanggil Abdullah bin Mas'ud dan betkata kepadanya, "Bacakanlah (al-Qur'an) untukku, wahai Abdullah bin Mas'ud"

Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Aku bacakan untukmu, sedangkan kepadamulah diturunkanya."

"Sesungguhnya, aku ingin mendengar selainku," jawab beliau dengan hikmat dan diplomatis.

Maka, Abdullah bin Mas'ud pun membacakan ayat-ayat suci al-Qur'an dengan bacaan yang bagus dan suara yang indah. Nabi Muhammad pun menjadi senang. Begitu senangnya beliau, sehingga beliau pun memwasiatkan kepada para sahabatnya untuk mengikuti Abdullah bin Mas'ud dengan bersabda:

"Barangsiapa suka mendengarkan al-Qur'an dengan baik, mak dengarkanlah dari Ibnu Ummi Abdullah (Abdullah bin Mas'ud)."

"Barangsiapa suka membaca al-Qur'an dengan baik, sebagaimana diturunkan, maka bacalah ia menurut bacaan Ibnu Ummi Abdullah," (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim dalam Al-Mustadrak).

Abdullah bin Mas'ud itu memiliki tubuh yang kecil dan pendek, namun dalam Perang Badar, ia mempunyai andil yang tidak dapat dilupakan. Ia bersama para sahabat Nabi Muhammad Saw telah membantu pembunuhan Abu Jahal bin Hasyim. Ketika Abu Jahal tersungkur oleh tikaman pedang Muadz, ia masih memiliki napas terakhir yang tersisa. Maka Abdullah bin mAs'ud pun datang dan menyempurnakan kematian Abu Jahal.

Ketika Umar bin Khattab berkuasa, ia pun memberikan rekomendasi kepada Abdullah bin Mas'ud untuk menjadi pengawas baitul mal di kota Kufah. Bahkan Abdullah bin Mas'ud juga diberi tugas sebagai guru dan pembimbing bagi rakyat Kufah.

"Sesungguhnya, aku bersumpah demi Allah Swt,... Yang tidak ada Allah selain dia. Aku benar-benar telah memuliakan kalian dengan mengutusnya (Abdullah bin Mas'ud) atas diriku sendiri. Mak, ambillah darinya, dan belajarlah kepadanya!" kata Umar bin Khattab kepada beberapa tokoh di kota Kufah.

Abdullah bin Mas'ud wafat pada tahun 32 H dalam usia 65 tahun. Ia wafat di Madinah. Ia telah meriwayatkan 840 hadits.

Keistimewaan Abdullah bin Mas'ud

Keimanan Abdullah bin Mas'ud sangat istimewa di sisi Nabi Muhammad Saw. Berikut beberapa keistimewaan Abdullah bin Mas'ud:
  • Mengetahui rahasia Nabi Muhammad Saw. Contohnya, jika beliau tidur, maka yang berani membangunkan beliau ialah Abdullah bin Mas'ud. Ketika beliau mandi, maka Abdullah bin Mas'ud yang memegang kain untuk menutupinya. Bila beliau berjalan seorang diri tanpa teman, maka yang menemaninya hanyalah Abdullah bin Mas'ud. Perkara-perkara ini besifat privacy. Dan keistimewaan ini hanya dimiliki Abdullah bin Mas'ud.
  • Menjaga bantal Nabi Muhammad Saw.
  • Menjaga Siwak Nabi Muhammad Saw. Setiap kali beliau ingin bersiwak, atau menyimpan siwaknya, maka Abdullah bin Mas'ud yang akan memegangnya.
  • Menjaga keperluam wudlu atau bersucinya Nabi Muhammad Saw.
Disamping beberapa keistimewaan tersebut, Abdullah bin Mas'ud juga mempunyai keistimewaan dan kelebihan lainya. Yakni, kecerdasan dan kekuatan daya hafal. Sehingga ia tidak mendengarkan sesuatu pun. Melainkan langsung menghafalnya. Abdullah bin Mas'ud menerima langsung al-Qur'an dari mulut nabi Muhammad Saw.

Nabi bersabda:

"Barangsiapa ingin mendengarkan al-Qur'an dalam keadaan segar, maka dengarkanlah Abdullah bin Mas'ud" (H.R Tirmidzi)

Abdullah bin Mas'ud juga pemberani,  meskipun ia dikaruniai badan kecil dan pendek. Ia orang yang pertama kali membaca al-Qur'an dengan suara keras dihadapan orang-orang Quraisy. Ketika ia membacakan surat Ar-Rahman dalam perkumpulan mereka, orang-orang Quraisy bangkit dan memukulinya. Musuh Allah, Abu jahal menamparnya dengan keras hingga telinganya pecah. Manakala Nabi Muhammad Saw menyaksikanya, ia tersenyum dan menolongnya.

Pada perang Badar, Abu Jahal jatuh. Lalu, Abdullah bin Mas'ud menginjak dadanya. Abu Jahal berteriak, "Hai pemuda kecil penggembala kambing, engkau menaiki kendaraan yang sukar. Bagu siapakah kemenangan ini?"

Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Bagi Allah dan rasul-Nya".

Lalu Abdullah bin Mas'ud memenggal kepala Abu Jahal kemudianya membawanya kepada Nabi. Beliau pun tersenyum lantaran teringat peristiwa pecahnya telinga Abdullah bin Mas'ud karena pukulan Abu Jahal.

-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrahman bin Abdul Karim

Related Posts:

Dalil Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW

Dalil Maulidiyah

Nabi Muhammad lahir pada hari Senin 20 April 571 M atau 12 Rabiul awwal tahun Gajah di kota Makkah, dari pasangan Sayyid Abdullah bin Abdul Mutholib dan Sayidah Aminah binti Wahhab. Beliau wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awwal 11 H atau 8 Juni 632 M.

Beliau merupakan seorang Nabi dan juga Rasul yang terakhir (Khotamul Anbiya'). 

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا اَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُوْلُ اللَّهِ وَخَتَمَ النَّبِيِّيْنَ

Artinya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu. Tetapi, ia adalah Rasulullah dan penutup para nabi-nabi" (Q.S Al-Ahzab : 40)

Beliau juga merupakan tuanya para Nabi dan Rasul. Kedatanganya merupakan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Beliau juga diutus untuk seluruh alam semesta dan memberi rahmat kepada mereka (Rohmatan Lil 'alamin).

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Artinya: "Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" (Q.S Al-Anbiya' : 107)

Beliau juga satu-satunya Rasul yang kelak akan memberi Syafa'at (pertolongan) di hari kiamat.  Maka, tak salah bila kita sebagai umatnya selalu mengagungkan dan mencintainya dengan sepenuh jiwa raga, sebagai sarana untuk mencapai kecintaan kepada Allah swt.

Banyak cara yang kita lakukan untuk mewujudkan kecintaan kepada beliau, seperti mengikuti ajaran-ajaranya, meniru sifat-sifat beliau yang agung, juga membaca shalawat.


Membaca shalawat juga merupakan kegiatan rutinitas umat muslim untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad saw pada bulan Rabiul 'Awwal. 

Acara ini,biasanya dimulai dengan pembacaan Al Barjanji, Mauliddiba' atau bacaan lain yang menuturkan sejarah ringkas Rasulullah saw.

Lalu, bagaimana pendapat para ulama' dengan perayaan tersebut?

Dalil tentang Maulidiyah


Sebenarnya, permasalahan diatas sudah pernah ditanyakan kepada Imam Jalaluddin as-Suyuthi 5 abad lalu, beliau menjawab bahwa maulid nabi merupakan Bid'ah Khasanah.


Alasanya, karena merupakan suatu kegiatan perwujudan untuk mengagungkan ketinggian derajat baginda Nabi Muhammad saw. Dan, orang yang melakukan hal tersebut, ia akan mendapat pahala.

Keterangan ini diambil dari kitab al-Hawi Lil Fatawi juz 1, hal 251-252. Bahkan, peringatan nabi juga merupakan kegembiraan umat atas terutusnya beliau baik sebagai rasul maupun sebagai penyelamat di hari kiamat kelak. Yang mana, kegembiraan tersebut diisi dengan pembacaan ayat-ayat alqur'an, sholawat dan sejarah ringkas beliau seperti yang disebutkan diatas. 

Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا

Artinya: "Katakanlah (Muhammad) sebab fadlal dan rahmat Allah (kepada kalian). Maka, bergembiralah kalian" (Q.S Yunus : 58)

Ayat diatas memerintahkan agar kita bergembira apabila mendapat anugerah dari Allah. Tentu saja, dengan cara dan hal-hal yang positif seperti sedeqah, membaca ayat suci bersama, dan lain-lain.

Asal usul Maulidiyah

Memang, kegiatan Maulidiyah ini bukan dari ajaran Rasulullah. Melainkan, dirintis oleh raja Muzhaffar Abu Said al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin.

Beliau, merupakan seorang raja yang shaleh dan bermahdzab Ahl Sunnah dan terkenal sangat pemurah lagi baik hati. 

Hal ini seperti keterangan al-Haawi li al-Fatawi juz 1 hal 252. Akan tetapi, peringatan hari kelahiran nabi Muhammad saw udah ada sejak dahulu. Pada saat beliau lahir, hanya saja beda dalam pelaksanaanya.

Abi Qatadah meriwayatkan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَْهِ وَسَلّمَ سُئِلَ عَنْ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدَةْ وَفِيْهِ أُنْزَلُ عَلَيَّ

Artinya: " Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari senin, maka beliau menjawab, "pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku" (H.R Muslim)

Betapa, Rasulullah sangat mengagungkan hari beliau lahir, maka wajarlah bila kita sebagai umatnya mengikuti apa yang telah menjadi kebiasaan beliau. Meskipun caranya berbeda . Akan tetapi, dalam acara Maulidiyah ini di isi dengan kegiatan-kegiatan ibadah yang dianjurkan Syari'at.

Dan lagi, ulama membenarkan penghormatan dengan cara demikian. Mereka adalah Sayyid Muhammad al-Alawi dalam Mafahim Yajibu an Tushohah hal 224-226. Dan pendapat Imam Ibnu Taimiyah dalam Manhaj as-Salaf fi fahm al-Nushus bain al-Nazhariyyah wa al-Thatbiq hal 399.

Mengenai berdiri ketika Mahallul Qiyam hal ini juga sesuai anjuran nabi, nabi menganjurkan bahwa ketika kedatangan orang agung, maka berilah penghormatan kepadanya dengan berdiri. 

Nabi Muhammad saw bersabda:

قُومُوْ إِلَى سَيِّدِكُمْ اَوْ خَيْرِكُمْ

Artinya: "Berdirilah kamu untuk tuan kalian atau orang yang paling baik diantara kamu" (H.R Abu Said Al-Khudzri dalam Shahih Muslim)

Related Posts:

Sejarah Kerajaan Islam Pertama di Sumatera

Pada dasarnya, daerah Sumatera itu memang menjadi daerah yang sering disinggahi oleh para pedagang asing. Umumnya, mereka tertarik oleh hasil pertanian di daerah ini. Hasil bumi ini, seperti pala dan cengkeh yang berasal dari daerah Maluku.

Para pedagang asing yang datang pada daerah ini, biasanya para pedagang-pedagang muslim. Maka dari itu lambat laun, daerah Sumatera ini sebagian penduduknya terpengaruh oleh Agama Islam

Kerajaan Islam pertama di Sumatera

Umumnya, sebuah kerajaan islam ini bermula dari pengaruh para pedagang asing yang sebagian besar beragama islam. Para pedagang ini kemudian mulai membawa pengaruh kepada penduduk sekitar khususnya ialah Sumatera.

Umumnya, mereka tertarik karena keramah tamahan para pedagang. Lalu, dengan sukarela mereka masuk islam. Para penduduk yang beragama islam, kemudian membuat komunitas-komunitas islam lalu kemudian membuat sebuah kerajaan.

Baca juga: Sejarah masuknya Islam ke Indonesia

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan islam pertama di Indonesia ialah Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur Laut Aceh.

Kerajaan Samudera Pasai

Kemunculanya sebagai kerajaan islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim.

Raja pertama kerajaan Samudera Pasai ialah Malik Al-Saleh. Hal ini diketahui melalui tradisi Hikayat Raja-raja Pasai.

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk islam berkat pertemuanya dengan Syaikh Ismail seorang utusan Syarif Mekkah, yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Saleh.

Merah Selu adalah Putra Merah Gajah. Nama Merah merupakan gelar bangsawan yang lazim di Sumatera Utara.

Dari hikayat tersebut terdapat petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudera Pasai ialah Muara Sungai Peusangan. Ini, merupakan sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai dan muah bagi perahu-perahu maupun kapal-kapal mengayuhkam dayungnya ke pedalaman.

Pendapat bahwa Islam sudah berkembang disana sejak abad ke-13 M ini didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutlah. Seorang pengembara yang terkenal berasal dari Maroko. Ia mengunjungi Samudera Pasai pada abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 H).

Dalam kehidupan perekonomianya, kerajaan maritim ini tidak mempunyai basis agraris. Basis perekonomianya ialah perdagangan dan pelayaran. Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran itulah yang menjadi sendi-sendi penghasilan bagi kerajaan.

Samudera Pasai pada masa itu juga sudah mempunyai sebuah mata uang dirham. Mata uang dirham tersebut pernah diteliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti kerajaan Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama-nama Sultan Alaudin, Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah.

Pada tahun 1973 M ditemukan lagi 11 mata uang diantaranya bertuliskan atas nama Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah, semuanya adalah raja-raja Samudera Pasai pada abad ke-14 dan 15 M.

Kerajaam Samudera Pasai ini berlangsung sampai tahum 1524 M. Pada tahun 1521 M kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun. Kemudian, tahun 1524 M di Aneksasi oleh raja Aceh. Kemudian Samudera Pasai berada di bawah Kasultanan Aceh Darussalam.

Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaam Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama kabupaten Aceh besar. Disini pula terletak ibukotanya. 

Kasultanan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M diatas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M). Dialah yang membangun kota Aceh Darussalam.

Menurut H.J de Graaf  Aceh darussalam menerima islam dari Pasai yang menjadi wilayah bagian Aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14 M.

Menurutnya, Aceh merupakan penyatuan dua kerajaan kecil yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal. Ia juga berpendapat bahwa rajanya yang pertama ialah Ali Mughayat Syah.

Ali Mughayat Syah memperluas wilayah kekuasaanya ke daerah Pidie yang bekerja sama dengan Portugis. Kemudian ke Pasai pada tahum 1524 M. Dengan kemenangan dari dua kerajaan tersebut, Aceh dengan mudah melebarkan sayap ke daerah Sumatera Timur.

Peletak dasar kebesaran kerajaan Aceh ialah Sultan Alaudin Riayat Syah ia bergelar Al Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis, ia menjalin hubungan dengan Kerajaan Usmani di Turki.

Dengan bantuan kerajaan tersebut Aceh dapat membangun angkatan perangnya dengan baik. Tampaknya Aceh pada saat itu mengakui Kerajaan Usmani merupakan kedaulatan tertinggi.

Puncak kekuasaan Kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608-1637 M). Pada masanya, Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir timur dan barat Sumatera.

Tidak seperti Iskandar Muda yang memerintah dengan tangan besi, penggantinya Iskandar Tsani bersikap lebih liberal, lembut dan adil. Pada masanya, Aceh terus berkembang hingga beberapa tahun.

Pengetahuan agama maju dengan pesat. Akan tetapi, kematianya diikuti oleh masa-masa bencana. Tatkala beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699. Beberapa wilayah taklukanya lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah. Sehingga menjelang abad ke-18 M kasultanan Aceh merupakan bayangan belaka dari masa silam.

-Sejarah Peradaban Islam-
Oleh Dr. Badri Yatim, M.A.

Related Posts:

Cara Dzikir dan Doa Sesudah Sholat Ala Rasulullah

Cara Dzikir dan Doa

Bagaimana cara dzikir rasulullah?

Dzikir adalah amalan yang disunnahkan pada setiap waktu, terkecuali pada waktu dan tempat yang telah dilarang untuk berdzikir. Seperti: saat buang hajat, berjimak, saat mendengarkan khutbah dan sebagainya.

Berdzikir hendaknya tidak tertuju pada bacaan tasbih, tahlil, dan takhmid saja. Akan tetapi lebih kepada makna-makna lain dzikir yang lebih luas.

Sahabat Said bin Jubair ra menerangkan bahwa orang yang berdzikir adalah orang yang melakukan perbuatan karena Allah dengan taat. Mengingat arti dzikir sendiri ialah mengingat.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذيْنَ أَمَنُوْا اذْكُرُواللَّهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا وَسَبِّحُوْا بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Artinya: "Hai sekalian orang yang mukmin, ingatlah Allah sebanyak-banyaknya dan tasbihlah memuji Allah pagi-pagi dan petang-petang" (Q.S Al-Ahzab : 41-42)

Dzikir dan doa sesudah shalat ala rasulullah

Dari sekian banyak waktu, waktu yang paling utama untuk berdzikir ialah sesudah shalat fardlu. Hal ini berkaitan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Umamah ra.

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ جَوْفُ الَّيْلِ الْأَخِرِ وَدُبُرِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ

Artinya: "Dikatakan kepada Rasulullah saw: Doa manakah yang paling di dengar? Nabi berkata: tengah malam yang akhir dan setelah sholat wajib" (HR. Abu Umamah ra)

Dzikir atau wirid setelah sholat ini sudah disyariatkan semenjak baginda Nabi Muhammad saw masih hidup. Dan oleh para ulama khususnya ulama indonesia terdahulu kebiasaan Rasulullah ini tetap dilestarikan.

Sehingga, menjadi semacam adat atau kebiasaan sampai saat ini. Dzikir tersebut ialah membaca istighfar 3x sampai doa setelah sholat. Jadi, semuanya bersumber dari Nabi Muhammad saw.

Baca juga : Fadzilah Istighfar

Lihatlah beberapa hadits nabi berikut ini:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إَذَا إِنْصَرَفَ إِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ أَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ
تَبَارَكْتَ يَا ذَالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Artinya: "Ketika Rasulullah selesai dari sholatnya, ia lalu membaca istighfar 3x dan ia mengucapkan Allahumma antassalamu wa minkassalamu tabaarakta yaa dzaljalaali wal ikram" (HR. Tsauban ra)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

مَنْ سَبَّحَ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَحَمِدَ اللَّهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَكَبَّرَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِأَةِ لَاإِلَاهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ غُفِرَةْ خَطَيَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلُ زَبَدِ الْبَحْرِ

Artinya: "Barangsiapa membaca Tasbih 33x, Tahmid 33x, Takbir 33x  dan sebagai penyempurna membaca Laa ilaaha illahu wahdahu laa sariikalah lahulmulku walahul hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa 'ala kulli saiin qodiir, maka kesalahanya akan diampuni meskipun seperti buih air laut" (HR. Abu Hurairah ra)

Tata cara berdzikir


Adapun mengenai tata cara berdzikir, itu ada yang berdzikir dengan suara keras ada pula yang berdzikir siir (samar). Ada pula yang berdzikir dengan cara sendiri dan ada pula yang dilakukan secara berjamaah.

Dalam kitab Al Adzkar karangan Imam Nawawi, mengenai berdzikir bisa dilakukan dengan hati atau dengan lisan. Dan yang lebih utama adalah berdzikir dengan menggabungkan hati dan lisan.

Jika hanya dengan salah satunya saja, maka lebih utama dengan hati. Karena, lebih jauh dengan perbuatan riya'. Dan juga, karena tujuan dzikir adalah menghadirkan hati untuk dekat dengan Allah swt.

Rasulullah saw bersabda:

أُذْكُرُ اللَّهَ ذِكْرًا خَامِلًا. قِيْلَ وَمَا ألذِّكْرُ الْخاَمِلْ؟ قَالَ الذِّكْرُ الْخَفِيُّ

Artinya: "Ingatlah kamu kepada Allah dengan dzikir khomil. Apa itu dzikir khomil? Nabi berkata, dzikir khomil ialah dzikir yang samar"

Hadits ini menerangkan keutamaan dzikir khommil atau pelan. Akan tetapi, para ulama ahli tasawuf menerangkan bahwa cara yang demikian tersebut bagi orang yang sudah terbiasa, artinya jika belum terbiasa maka lebih baik dengan keras karena lebih bisa menolong hati untuk berdzikir.

Baca juga: Keutamaan dzikir dan tahlil

Dzikir berjamaah

Mengenai sendirian atau berjamaah dalam berdzikir, sebagian ulama berpendapat bahwa lebih utama berjamaah. Karena berjamaah diibaratkan sebagai penumpang suatu kendaraan. Meskipun ada yangvtertidur, maka akan tetap sampai tujuan sama-sama

Nabi bersabda:

لَايَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللَّهَ تَعَالَى إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَسِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَة عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Artinya: "Tidaklah suatu kaum yang duduk dan mengingat Allah ta'ala kecuali para malaikat mengelilingi dan memberikan rahmat kepada mereka, dan turunlah ketenangan hati mereka. Dan meteka diingat oleh Allah dihadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya" (HR. Abi Said Al-Khudri dan Abi Hurairah ra)

Hadits tersebut menerangkan keutamaan suatu kalangan, yang dimana mereka akan diberi rahmat dan ketenangan untuk kalangan tersebut.

Jika melihat keterangan di atas ini, jelaslah bahwa dzikir setelah sholat dengan keras dan secara berjamaah sangatlah banyak keunggulanya dibanding dengan dzikir secara pelan dan sendirian.

Keuntungan dzikir secara keras diantaranya lebih bisa menolong hati untuk khusyu' dan lwbih menunjukkan syiar kepada agama islam. Sedangkan dengan berjamaah juga bisa membangkitkan semangat, karena sudah mwnjadi watak manusia bila melakukan sesuatu secara bersama-sama akan lebih bersemangat.

Related Posts:

Kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa

Demak
masjid agung Demak
Perkembangan islam di pulau Jawa ini, dimulai dari melemahnya posisi raja Majapahit. Hal ini memberi peluang kepada penguasa-penguasa Islam di pesisir untuk membangun kekuasaan yang independen. Berikut ini kerajaan-kerajaan islam di pulau Jawa.

  • Demak
Kerajaan islam pertama yang berdiri di pulau Jawa ialah kerajaan Demak. Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak. 

Raja pertama ini bergelar Senopati Jimbun Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.

Dalam menjalankan pemerintahanya, terutama dalam persoalan agama, Raden Patah ini dibantu oleh Wali Songo. Sebelumnya, Demak yang masih bernama Bintoro, merupakan daerah Majapahit. Kemudian, diberikan oleh raja Majapahit kepada Raden Patah. Yang lambat laun, akhirnya menjadi pusat perkembangan agama islam.

Pemerintahan Raden Patah berlangsung kira-kira di akhir abad ke-15 hingga awal abad 16. Dikatakan, ia adalah seorang anak raja Majapahit dari seorang ibu muslim keturunan Campa. Ia, kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Sambrang Lor, dan juga dikenal dengan nama Pati Unus.

Menurut sejumlah ilmuwan, Pati Unus waktu pertama dilantik masih berumur 17 tahun. Tidak lama setelah naik tahta, kemudian ia merencanakan penyerangan kepada Malaka. Akan tetapi, pada tahun 1512-1513, tentaranya mengalami kekalahan besar.

Pati Unus, kemudian digantikan oleh Trenggono yang dilantik langsung oleh Sunan Gunung Jati dan diberi gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Ia memerintah selama 1524-1546. Pada masa inilah perkembangan islam sangat cepat dan meluas ke seluruh tanah Jawa, bahkan sampai ke Kalimantan Selatan.

Kala itu, Demak berhasil menguasai Tuban tahun 1527. Selanjutnya paa tahun 1529 Demak menundukkan Madiun, Blora (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), dan antara tahun 1541-1542 Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan Kediri (1544). Palembang dan Banjarmasin juga ikut ditaklukkan.

Selanjutnya, daerah Jawa Tengah sekitar gunung Merapi juga berhasil dikuasai berkat pemuka agama bernama Syekh Siti Jenar dan Sunan Tembayat. 

Dalam penyerbuan ke Blambangan Sultan Trenggono terbunuh kemudian dugantikan Prawoto. Akan tetapi kekuasaanya tidak lama karena terjadi pemberontakan di dalam kerajaan. Prawoto dibunuh oleh Aria Penangsang penguasa daerah Pajang. Dengan demikian kekuasaan kerajaan Demak berakhir dan dilanjutkan oleh Jaka Tingkir penguasa kerajaan Pajang yang berhasil mengalahkan Aria Penangsang.

  • Pajang
Kasultanan Pajang adalah pelanjut dan dipandang pewaris kerajaan Islam Demak. Kasultanan ini terletak di daerah Kartasura. Usia kasultanan ini tidak berlangsung lama.

Sultan pertama yang memimpin kerajaan ini ialah Jaka Tingkir. Beliau diangkat oleh sultan Trenggono setelah sebelumnya dikawinkan dengan putrinya.

Setelah menjadi raja, Jaka Tingkir bergelar Sultan Adiwijaya. Lalu titik pusat pemerintahan Demak olehnya, di pindah ke Pajang.

Selama masa pemerintahan Sultan Adiwijaya, kasusastran dan kesenian keraton yang sudah maju di Demak memang dikenal oleh masyarakat pedalaman di pulau Jawa. Pengaruh agama Islam juga mulai menjalar dan tersebar ke seluruh pedalaman.

Sultan Pajang meninggal dunia tahun 1587 dan digantikan oleh menantunya Aria Pangiri anak susuhunan Prawoto penguasa kerajaan Demak. Waktu itu Aria Pangiri menjadi penguasa kerajaan Demak setelah sebelumnya menetap di Pajang. Oleh karenanya, kerajaan Pajang kemudian diberikan kepada anak sultan Adiwijaya yaitu Pangeran Banawa.

Karena pangeran Demak masih muda dan tidak puas, maka ia meminta kepada penguasa kerajaan Mataram untuk mengusir raja Pajang yang baru. Pada tahun 1588 akhirnya usaha itu berhasil.

Sebagai gantinya, Pajang diberikan kepada pihak Mataram. Pada tahun 1618 Pajang memberontak kepada Mataram yang ketika iti di bawah pimpinan Sultan Agung. Akhirnya Pajang dihancurkan dan rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.


  • Mataram
Mataram Jogja
Jogjakarta atau Mataram
Awal dari kerajaan Mataram ialah ketika Sultan Adiwijaya atau Jaka Tingkir meminta bantuan kepada Ki Pamanahan untuk menghadapi dan menumpas kekuasaan Aria Penangsang penguasa Demak.

Sebagai hadiahnya, akhirnya Ki Pamanahan diberi hadiah daerah Mataram. Lalu akhirnya Ki Gede Pamanahan yang menurunkan raja-raja Mataram Islam kemudian.

Pada tahun 1577 M ia menempati kursi kekuasaannya. Barulah pada tahun 1584 ia digantikan oleh anaknya Banawa yang berhasilkan mengalahkan kerajaam Pajang atas permintaan raja Demak waktu itu.

Sebagai hadiahnya, sebenarnya Banawa telah diberi kekuasaan atas Pajang, akan tetapi ia tidak mau dan hanya membawa pusaka Gong Kiai Sekar Delima, Kendali Ki Macan Guguh, dan Pelana Kiai Jatayu. Namun, penyerahan benda pusaka pada adat Jawa Timur sama saja penyerahan kekuasaan.

Banawa kemudian berkeinginan menguasai juga daerah jajahan Pajang. Tetapi, ia tidak mendapat pengakuan atas raja-raja di Jawa Timur atas penguasa pengganti kerajaan Demak. Melalui peperangan berat, barulah ia berhasil menguasai sebagian. 

Pada tahun 1601 Banawa meninggal dunia, dan kekuasaan diberikan kepada anaknya M. Seda Ing Krapyak. Ia memerintah hingga tahun 1613. Kemudian digantikan lagi oleh Sultan Agung. Pada tahun 1619 seluruh daerah Jawa Timur praktis dibawah kekuasaanya.

Masa pemerintahan Sultan Agung ini juga awal mula terjadi kontak senjata dengan VOC. Pada tahun 1630 Sultan Agung menetapkan Amangkurat I sebagai putra mahkota. Dan pada tahun 1646 Sultan Agung wafat lalu di makamkan di Imogiri. 

Masa pemerintahan Amangkurat I ini tidak pernah reda konflik. Dalam setiap konflik yang terjadi, pasti mereka didukung oleh para Ulama. Akibatnya Amangkurat I membunuh banyak para Ulama yang ia curigai.

Tindakan pertamanya ialah menumpas pendukung Pangeran Alit. Ia yakin Ulama dan Santri adalah bahaya bagi takhtanya. Sekitar 5000-6000 ulama beserta keluarganya dibunuh kala itu (1647 M).

Pada tahun 1677 M dan 1687 M pemberontakan para Ulama muncul dengan tokoh Raden Kajoran. Pemberontakan itulah yang menyebabkan kerajaan Mataram hancur.

  • Cirebon
Sultan pertama kerajaan Cirebon adalah Sunan Gunung Jati. Di awal abad ke-16, Cirebon masih merupakan daerah kekuasaan Pajajaran. Raja Pajajaran hanya menempatkan seorang labuhan di sana bernama Walangsungsang.

Walangsungsang merupakan seorang tokoh yang masih mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran. Ketika berhasil memajukan Cirebon, ia sudah menganut agama islam.

Akan tetapi, orang yang berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif Hidayatullah dan bergelar Sunan Gunung Jati yang kala itu resmi sebagai pengganti dari Walangsungsang dan masih merupakan keponakan dari pangeran Walangsungsang.

Sunan Gunung Jati juga merupakan pendiri dunasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.

Sebagai keponakan dari pangeran Walangsungsang, Sunan Gunung Jati juga mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi. Siliwangi ini menikah dengan Nyai Subanglarang dan mempunyai tiga putra yakni Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Sengara. Sunan Gunung Jati ini ialah pura dari Nyai Lara Santang dan Maulana Sultan Mahmud alias Syarif Abdullah dari Bani Hasyim ketika Lara Santang naik haji.

Karena kedudukanya sebagai Wali Songo, Sunan Gunung Jati di hormati oleh raja-raja lain seperti Demak dan Pajang. Sunan Gunung Jati ini lahir 1448 M dan wafat 1568 M dalam usia 120 tahun.

Dasar pengembangan islam dan perdagangan kaum muslimin di Banten diletakkan di Cirebon oleh Sunan Gunung Jati. Dan daerah kekuasaan Banten diberikan kepada anaknya Sultan Hasanuddin. Sultan inilah yang menurunkan raja-raja Banten. Ditangan kerajaan Banten juga Pajajaran berhasil dikalahkan.

Setelah Sunan Gunung Jati wafat ia digantikan oleh cicitnya yang terkenal dengan Pangeran Ratu. Beliau wafat pada tahun 1650 M dan digantikan oleh putranya yang bergelar panembahan Girilaya.


  • Banten
pelabuhan Banten
Pelabuhan Banten
Sejak sebelum zaman islam, dan dibaah kekuasaan raja Pajajaran atau mungkin sebelumnya, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Karena, Sunan Gunung Jati telah meletakkan dasar pengembangan islam di daerah ini dengan pengembangan perdagangan lewat pelabuhan di ujung barat pantai Jawa.

Untuk menyebarkan islam di Jawa Barat, langkah Sunan Gunung Jati ialah menduduki pelabuhan Sunda tahun 1527. Ia memperluas kekuasaanya atas kota-kota pelabuhan Jawa Barat lain yang semula termasuk Pajajaran.

Setelah ia kembali ke Cirebon, daerah kekuasaan diberikan kepada puranya Sultan Hasanuddin. Hasanuddin sendiri kawin dengan putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten tahun 1522. Ia meneruskan ayahnya meluaskan daerah islam ke Lampung, dan di sekitarnya Sumatera Selatan.

Pada tahun 1568 di saat kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Hasanuddin memerdekakan Banten. Itulah sebabnya oleh tradisi ia dianggap raja Islam pertama di Banten. Banten memang semula merupakan vassal dari Demak.

Hasanuddin wafat kira-kira tahun 1570 dan digantikan anaknya Yusuf. Sembilan tahun berkuasa, Yusuf menaklukan Pakuwan yang saat itu belum masuk islam. Kala itu, Pakuwan masih menguasai daerah pedalaman Jawa Barat. Sesudah Ibukota jatuh dan raja beserta keluarga menghilang, golongan bangsawan Sunda masuk islam.

Setelah Yusuf meninggal, tahun 1580 ia digantikan putranya Muhammad yang masih di bawah umur. Akhirnya kekuasaan di bawah pemerintahan jaksa agung beserta empat pembesar lainya. Raja Banten yang saleh ini melanjutkan penyebaran islam dan menaklukkan Palembang pada 1596. Ia wafat pada usia 25 tahun.

Ia meninggalkan anak usia 5 bulan Sultan Abdul Mafakhir Muhammad Abdulkadir.

Sebelum memegang kekuasaan ia masih berada di bawah 4 orang wali laki-laki dan seorang wali wanita. Ia baru aktif memegang kekuasaan tahun 1626 dan oada tahun 1638 mendapat gelar Sultan Makkah. Dialah raja Banten dengan gelar sultan pertama.

Pada tahun 1651 ia meninggal dan digantikan cucunya Sultan Abdulfath. Sultan ini yang beberapa kali melakukan perang melawan VOC yang berakhir dengan perjanjian damai tahun 1659 M.

-Sejarah Peradaban Islam-
Oleh Dr. Badri Yatim, M.A

Related Posts:

Kisah Hikmah Islami Mementingkan Orang Lain

bersedekah

Al itsar atau mengutamakan orang lain adalah tindakan yang disunnahkan rasulullah saw. Perilaku ini merupakan wujud persaudaraan sejati sesama muslim.

Berikut ini ialah kisah hikmah islami seorang sahabat rasul yang lebih mementingkan orang lain daripada keluarganya.

Baca juga: Kisah hikmah berbakti kepada orang tua

Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. Ia bermaksud meminta bantuan kepada nabi karena sedang dalam kesusahan.

Rasulullah kemudian menyuruh laki-laki itu untuk menemui salah satu istrinya.

Maka istri rasul berkata, "Demi Allah yang telah mengutus dengan hak, aku tidak mempunyai apapun kecuali air".

Mendengar itu, rasul menyuruh laki-laki itu kepada istri beliau yang lain. Ternyata, hasilnya sama. Istri rasulullah hanya punya air.

Rasul kemudian bersabda dihadapan para sahabat, "Siapa yang mau menjamu tamuku pada malam ini?"

Seorang laki-laki dari kaum Anshar nenyanggupinya. "Aku ya Rasul". Orang Anshar ini kemudian membawa laki-laki itu ke rumahnya.

Sesampai di rumah, ia lalu berkata kepada istrinya, "Wahai istriku, muliakanlah tamu Rasulullah ini. Apakah engkau punya sesuatu?"

Istrinya menjawab, "Tidak ada, kecuali makanan untuk anak-anak kita".

Mendengar jawaban istrinya, orang Anshar ini tidak lantas mengusir sang tamu. Ia berpesan kepada istrinya, "Hiburlah mereka (anak-anaknya). Jika mereka mau makan malam maka tidurkanlah. Jika tamu kita sudah masuk, matikanlah lampu dan perlihatkanlah kepadanya seolah-olah kita sedang makan".

Tamu itu pun datang. Mereka semua duduk. Tamu itu pun makan dalam keadaan gelap. Orang Anshar dan istrinya menemani sang tamu, seolah-olah sedang makan pula.

Akhirnya, sahabat Anshar dan istrinya itu tidur dalam keadaan lapar.

Ketika waktu subuh, sahabat Anshar ini menemui rasulullah saw dan menceritakan perbuatanya. Nabi saw pun berkata, "Allah swt sungguh takjub karena perbuatan engkau bersama istrimu tadi malam pada saat menjamu tamu". (HR. Bukhari Muslim)

Related Posts: