Tuesday, 21 November 2017

Cara Mengqadha Shalat Karena Haid

Haid dan Qadha' Shalat

Haid atau menstruasi memang sudah tidak bisa dihindari lagi bagi kalangan kaum wanita. Hal itu sudah menjadi takdir bagi semua wanita yang normal untuk mengalami yang namanya haid.

Apa yang dimaksud haid?

Haid adalah pengeluaran darah dari organ reproduksi wanita yang berasal dari dinding rahim perempuan.

Haid ini menjadi ciri kedewasaan seirang wanita. Pada umumnya wanita akan mengeluarkan darah haid pada umur 9-12 tahun.

Darah haid ini akan keluar terus menerus, maka hukumnya haram bagi wanita untuk mengerjakan shalat.

Masa haid ini akan dialami wanita selama paling sedikit satu hari satu malam (24 jam), pada umumnya akan dialami selama 7 hari, dan paling lama ialah 15 hari. Dan selebihnya maka dianggap darah istihadloh (darah kotor).

Mengqadha' shalat karena haid

Pada dasarnya, para ulama sepakat bahwa wanita tidak wajib shalat selama hari haidnya demikian juga tidak wajib mengqadha'nya. 

Hal ini sesuai hadits Muadz ra:

سَأَلْتُ عَائسَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِى الصّلَاةَ ٠ فَقَالَتْ أَحَرُوْرِيّةٌ اَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بَِحَرُوْرِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ ٠ قَالَتْ كَانَ يُصِيْبُنَا ذَالِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

Artinya : "aku pernah bertanya kepada ibu Aisyah ra , mengapa wanita haid mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' sholat? Ibu Aisyah berkata, "Apakah kamu Haruriyyah? Aku berkata , "aku bukan Haruriyyah, namun aku bertanya? Ibu Aisyah berkata lagi kami menglami hal itu dan diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' sholat. (H.R Bukhori)

Itulah keistimewaan wanita yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang pria. Seirang pria tetap harus mengqadha' puasa dan shalatnya ketika ia meninggalkannya. Namun berbeda dengan wanita, ia tidak wajib mengqadha' shalat ketika ia mengalami haid. Itulah kemurahan Allah Swt untuk wanita. Mengingat beban berat wanita ketika ia sedang hamil hingga 9 bulan lamanya kelak.

Lalu disini muncul dua masalah, 
  1. Suci dari haid sebelum keluar waktu sholat
  2. Permulaan haid setelah masuk waktu shalat namun belum melaksanakan shalat
Suci dari haid sebelum keluar waktu shalat

Jika diperhatikan, dari masalah ini biasanya orang akan menganggap shalatnya pada waktu tersebut masih tidak wajib. Padahal itu sudah wajib, karena ia sudah mampet dari darah haid. Artinya sudah suci.

Misal saja, jam 13:15 wib ia sudah suci dari haidz atau sudah tidak terasa mengeluarkan darah, maka artinya ia sudah wajib shalat.

Akan tetapi ia masih bermalas-malasan dan tidak menyegerakan mandi dan melaksanakan kewajiban shalat hingga masuk waktu ashar, maka ia wajib mengqadha' shalat dzuhur.

Namun permasalahanya, apakah apakah suci itu dihitung sesudah ia mandi atau ketika darah mampet?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa wanita haid wajib melakukan shalat yang ia suci di tengah waktunya, misal waktu dzuhur jam 13:00 ia suci.

Namun suci yang dimaksud itu sesudah mandi atau setelah darah mampet?

Bagaiman kalau darah mampet di akhir waktu shalat sedangkan tidak cukup waktu untul mandi dan wudlu?

Apakah wajib qadha'?

Pendapat pertama:
Syaratnya harus tersedia waktu yang cukup untuk mandi. Apabila ia suci di akhir waktu shalat, sedangkan tidak cukup waktu untuk mandi dan wudlu, maka tidak wajib shalat.
-
Demikian pendapat Imam Malik dalam kitab Al-Kaafi, 1/62 dan juga Imam Al Auza'i dalam kitab Al-Muhalla 2/239,

Pendapat Kedua:
Dua dianggap suci dan tidak ada bedanya antara ia sudah mandi atau belum mandi.
-
Hal ini menurut pendapat Imam Ats-Tsauri dalam kitab Al-Muhadzab 1/60

Maka jika ingin hati-hati peganglah pendapat kedua karena pendapatnya jauh lebih rajih (kuat).

Disamping itu, masih ada juga keleluasaan waktu atau waktu rahmat yang diberika oleh Rasulullah Saw. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.

مَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ اَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الصُّبْحَ ٠ وَمَنْ اَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ اَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ اَدْرَكَ الْعَصْرَ

Artinya: "Barangsiapa mendapat satu rakaat shalat subuh sebelum terbit matahari, maka ia telah mendapat shalat subuh. Barangsiapa mendaoat satu rakaat shalat Asar sebelum terbenam matahari, maka ia telah mendapat shalat Asar" (H.R Bukhori)

Permulaan Haid setelah masuk waktu shalat dan belum melaksanakan shalat

Dalam masalah ini semua ulama berpendapat bahwa ia wajib mengqadha' shalat yang ia tinggalkan. Mengingat sudah adanya hadits waktu rahmat diatas.

Lagi pula Rasulullah Saw sudah mengemukakan bahwa waktu terbaik untuk shalat ialah waktu awal (waktu pilihan).

Dengan begitu artinya, ia hanya menyepelekan shalat tersebut. Adapun dalil yang mewajibkan untuk mengqadha' shalat sudah termaktub dalam kitab Al Mughni 2/47, Al Muhadzab 1/60.

Read more

Monday, 13 November 2017

Fadzilah Dzikrul Maut

Mengingat Mati

Sering kali gebyar kemerlapan serta kemewahan duniawi mudah membuat manusia terlena. Apalagi ketika banyak perlengkapan hidup dengan segala kemajuan, kemudahan, dan kenikmatan yang seakan semakin mengepung kita di dunia.

Semua itu kerap sekali menggoda dan melalaikan manusia. Muncullah berbagai prinsip hidup materialisme (hidup hanya untuk tujuan materi), hedonisme (hidup hanya untuk tujuan kesenangan), permisivisme (serba memperbolehkan kesenangan), dan lain sebagainya. Dalam keadaan seperti itu, nasehat seseorang dianggapnya angin lalu, apalagi jika banyak teman yang mendukungnya. Mereka seakan merasa benar sendiri.

Allah Swt berfirman:

اَ لْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ٠ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرِ ٠ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ٠ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ٠ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنَ ٠ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ ٠ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنَ ٠ ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْ مَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

Artinya : "Bermegah-megahan telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak ! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian sekali-kali tidak ! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak ! Sekiranya kamu akan mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar kamubakan melihat neraka jahim. Kemudian kamu akan melihat dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)" (Q.S at-Takatsur)

Lalu apa yang dimaksud dzikrul maut?

Dzikrul maut ialah mengingat tentang kematian. Ketika kematian tiba, maka hilanglah segala kenikmatan yang telah dirasakanya. Ada seorang bijak yang mengatakan : "sesungguhnya secara umum, Allah hanya memberi satu kenikmatan saja, yakni bernapas". Begitu napas berhenti, maka berhenti pula berbagai kenikmatan yang ada.

Banyak manusia yang tidak sadar, bahwa detak jantung yang berlalu, denyut nadi yang bergetar, serta detik-detik masa yang terlewat sesungguhnya tidak lain hanyalah langkah-langkah nyata yang akan semakin mendekatkan kita pada titik takdir kematian.

Karena tidak disadari, maka kematian datangnya tampak selalu mendadak dan mengejutkan. Acapkali seseorang sedang menikmati kenikmatan dunianya, hanyut dalam kesenangan dunianya, tiba-tiba malaikat maut datang menjemput tanpa kompromi.

Dengan tiba-tiba, detakan jantungnya dihentikan buat selamanya. Kemanapun kita berlari, dan dimanapun kita berada, kematian akan datang menjemput. Karena sejatinya, kita hanya menunggu giliran.

Allah berfirman:

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذى تَفُِّرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Artinya: "katakanlah, sesungguhnya kematuan yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu. Kemudian, kamu akan dikembalikan kepada (Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata....." (Q.S al-Jumuah : 8)

Lazimnya, persepsi tentang manusia pintar ialah dia yang memiliki IQ (intelligence quotient) tinggi, menguasai iptek, kreatif dan semacamnya. Agar anaknya menjadi seperti itu, orang tua tak segan-segan mengeluarkan biaya tinggi sampai menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Kepintaran seringkali diukur oleh sederetan titel dan gelar keilmuan.

Barangkali, bila hidup itu cuma di dunia saja, maka gambaran yang demikian itu ada benarnya. Tetapi, hidup di dunia hanyalah sementara. Kelak, kehidupan di akhiratlah yang abadi. Kualitas manusia cerdas seperti itu sangat rendah. Sebab, cakupan orientasinya hanya duniawi yang juga sempit.

Baca juga: Fadzilah menuntut ilmu agama

Artinya, orang yang berhasil mengumpulkan berbagai prestasi dunia, harta melimpah serta jabatan tinggi akan sia-sia bila setelah mati justru sengsara selamanya.

Pemikiran sempit yang hanya terpaku oleh duniawi justru merupakan simbol kedunguan yang terlalu.

Untuk itu, Rasulullah Muhammad Saw memberikan rumusan yang lain. "Bahwa manusia cerdas ialah yang memperbanyak ingatanya kepada kematian. Serta memperbanyak persiapanya untuk menghadapi kematian"

Dengan mengingat mati, maka kehidupan di dunia tidak hanya untuk bersenang-senang tetapi juga untuk ladang beramal baik sebanyak-banyaknya.

"Secerdas-cerdas manusia ialah yang memperbanyak ingatanya kepada kematian. Serta, yang terbanyak persipanya untuk menghadapi kematian" (H.R Ibnu Majah)

Orang yang lupa akan kematian akan terasa berat ketika beribadah. Karena, ia dikejar-kejar oleh kenikmatan dan kemewahan duniawi. Baginya, masalah akhirat dianggap tidak berguna. Kalaupun ada niat beribadah, maka akan ditunda-tuna menunggu nanti kalau sudah tua.

Padahal, datangnya maut siapa yang tahu. Bisa jadi sore, atau malam nanti. Bila sudah saatnya, maka kita tak akan bisa menghindarinya.

"Cukuplah kematian itu sebagai penasihat" (H.R Thabrani dan Baihaqi)

Oleh karenanya maka janganlah menunda-nunda ibadah. Laksanakanlah kewajiban beribadah dengan segera seolah maut akan menjemput. Dengan demikian, ibadah akan terasa ringan.

Hawa nafsu yang selalu mencintai dunia hendakalah dikendalikan dengan mengingat mati. Dengan begitu, angan-angan tentang kemewahan dunia daoat dikendalikan. Ingatlah bahwa pakaian mahal dan indah yang kita banggakan akan ditinggalkan dan menjadi barang yang tak berguna di alam kubur.

Sebab, kain yang kita bawa hanyalah kain kafan saja. Tempat yang akan kita temapati hanyalah liang sempit yang gelap dan sendirian.

"Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang demikian itu akan menghapus dosabdan menyebabkan timbulnya kezuhudan dunia" (H.R Ibnu Abid Dunya)

Dengan menyadari keadaan masa depan yang akan kita hadapi, maka kekayaan dunia menjadi tiada arti. Dengan begitu kita akan mudah mengeluarkan zakat dan juga sedekah. Dan dengan demikian, kita akan mempunyai tabungan amal akhirat.

Baca juga : Keutamaan sedekah dan haditsnya
Read more

Saturday, 4 November 2017

Biografi Sahabat Nabi - Abu Dzar al-Ghifari

Abu Dzar al-Ghifari sang penyendiri

Sebelum masuk islam, Abu Dzar al-Ghifari ia adalah seorang perompak. Perompak ialah orang yang suka merampok.

Sasaranya adalah para kabilah (pedagang) yang melewati padang pasir. Suku Ghifar memang sudah dikenal sebagai "binatang buas malam" dan "hantu kegelapan". Jika bertemu dengan mereka, jarang sekali orang yang selamat dari perampokan.

Biografi Abu Dzar al-Ghifari

Abu Dzar al-Ghifari ini terlahir dengan nama Jundab bin Junadah bin Sufyan al-Ghifari. Tetapi, ia dikenal dengan sebutan Abu Dzar al-Ghifari. Ia adalah sahabat nabi Muhammad Saw yang berasal dari suku Ghifar dan termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam.

Suku Ghifar memang dikenal sebagai suku perompak. Tak lain juga Abu Dzar al-Ghifari ini. Ia mewarisi karier ayahnya sebagai pemimpin besar perompak kafilah yang melewati jalur perdagangan Makkah-Suriah yang telah lama dikuasai oleh suku Ghifar.

Meskipun melakukan perbuatan jahat, akan tetapi hati kecil Abu Dzar al-Ghifari sebenarnya menolaknya. Akhirnya, ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya.

Baca juga : Saa'ad bin Abi Waqash sang bangsawan yang masuk Islam

Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Namun, kaumnya marah dan memusuhinya.

Abu Dzar al-Ghifari akhirnya pindah bersama ibunya ke Nejd. Saudara laki-lakinya juga diajaknya serta. Di tempat yang baru, ia menghadapi penduduk Nejd yang suka berbuat onar. Penduduk setempat juga mengusirnya, akhirnya ia pindah ke sebuah perkampungan dekat Makkah.

Tiba di perkampungan tersebut tak lama kemudian Abu Dzar ini mendengar tentang ajaran Nabi Muhammad Saw dan akhirnya ia menyatakan untuk masuk Islam.

Keistimewaan Abu Dzar al-Ghifari

Abu Dzar al-Ghifari ini mempunyai sifat pemberani, terus terang, dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendirianya.

Ia mendapat hidayah dari Allah Swt di kala rasulullah berdakwah secara diam-diam. Dan baru ada 10 orang yang masuk Islam termasuk ia sendiri.

Baru saja masuk Islam, Abu Dzar sangat bersemangat. Tanpa menunda lagi, ia pergi ke Masjidil Haram dan mengucapkan dua kalimah Syahadat dengan suara keras.

Suara itu menggelegar dan di dengar oleh para pembesar Quraisy yang tengah menyembah berhala. Sontak hal tersebut membuat gelisah dan akhirnya mengejar Abu Dzar.

Mungkin saat itu ajal Abu Dzar hampir tiba, namun ia diselamatkan oleh Abbas bin Abdul Muthallib yang berkata, "wahai orang-orang Quraisy! Kalian adalah bangsa pedagang yang mau tak mau akan melewati perkampungan Bani Ghifar. Orang inu adalah salah satu warganya. Ia bisa saja menghasut kaumnya untuk merampok kalian kelak."

Mendengar hal itu, akhirnya kaum Quraisy segera membebaskan Abu Dzar yang tubuhnya sudah membengkak. Akan tetapi Abu Dzar tak hanya sampai disitu, ia terus mengejek berhala secara terang-terangan.

Suatu hari penduduk Madinah dikejutkan dengan kedatangan rombongan besar. Mereka semua bertakbir. Bila saja mereka tidak bertakbir, maka mereka bisa saja disangkanya rombongan musuh. Karena saking banyaknya rombongan tersebut.

Setelah ditanya ternyata mereka ialah kaum Bani Ghifar dan Bani Aslam. Mereka semua telah diislamkan oleh Abu Dzar al-Ghifari. Tak terkecuali baik itu wanita, ana-anak, remaja maupun tua dan muda mereka semua ada dalam rombongan.

Sedemikian gigih dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Nabi Muhammad Saw merasa kagum dan menyatakan pujianya.

Tak lama kemudian, Nabi Muhammad Saw pun wafat. Setelah itu Abu Dzar beserta kaumnya hidup tenang di masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Namun, pada masa Utsman bin Affan, Abu Dzar al-Ghifari mulai gelisah. Hal ini dikarenakan mulai banyak pejabat yang tertarik kemewahan dunia. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan sifat Abu Dzar.

Baca : Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin

Orang-orang yang paling tidak disukainya ialah oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Utsman bin Affan. Seperti, Marwan bin Hakam, Muawiyah bin Abi Sufyan, dan lainya.

Sebenrnya, Abu Dzar bisa saja langsung menghantam orang-orang yang hidup bermewah-mewahan tersebut. Namun, ia selalu ingat pesan baginda Nabi, "bersabarlah wahai Abu Dzar, sampai engkau menemuiku"

Maka, Abu Dzar menyimpan pedangnya dan berseru "katakanlah kepada penumpuk harta, mereka kelak akan disetrika oleh api neraka"

Karena merasa nasihatnya tidak digubris, Abu Dzar beserta istrinya mengasingkan diri di Rabadzah hingga ia wafat. Di tempat itulah jenazah Abu Dzar disholati oleh kaum muslimin yang lewat.

Maka, benarlah sabda Nabi Muhammad Saw, "engkau berjalan seorang diri, mati seorang diri, dan dibangkitkan pula kelak seorang diri (karena keistimewaany)"

-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrahman bin Abdul Karim
Read more

Wednesday, 1 November 2017

Biografi Sahabat Nabi - Sa'ad bin Abi Waqqash

Sa'ad Bin Waqqash

Sa'ad bin Abi Waqqash adalah termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam dansalah satu sahabat penting Nabi Muhammad Saw.

"Aku adalah orang ketiga yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah," demikianlah Sa'ad bin Abi Waqqash mengenalkan dirinya.

Biografi Sa'ad bin Abi Waqqash

Sa'ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf hidup di tengah-tengah Bani Zahrah, yang merupakan paman Nabi Muhammad Saw. Wuhaib adalah kakek Sa'ad dan paman Aminah binti Wahab, ibunda Nabi Muhammad Saw.

Baca juga: Kisah Khalid bin Walid Sang Pedang Allah

Sa'ad bin Abi Waqqash dikenal banyak orang karena ia adalah paman Nabi Muhammad Saw. Dan, Nabi Muhammad Saw sangat bangga dengan keberanian, kekuatan, serta ketulusan iman Sa'ad bin Abi Waqqash.

Nabi Muhammad Saw, bersabda "ini adalah pamanku, maka perlihatkan kepadaku paman kalian!"

Sa'ad bin Abi Waqqash berasal dari klan Bani Zuhrah dari Quraisy. Ia termasuk dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Ia juga sangat disayangi oleh orangtuanya, terutama ibunya.

Begitu juga Sa'ad ia juga termasuk salah seorang yang sangat patuh terhadap ibunya. Sedemikian sayangnya, sehingga seolah-olah cintanya hanya untuk ibunya.

Ibunya Sa'ad bernama Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah. Sang ibu adalah wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy yang memiliki wajah cantik dan anggun.

Baca juga: Kisah hikmah berbakti kepada orang tua

Meskipun Sa'ad berasal dari Makkah, ia sangat benci kepada agamanya dan masyarakatnya. Ia membenci praktik penyembahan berhala yang membudaya di Makkah saat itu.

Keistimewaan Saad bin Abi Waqqash

Pada suatu hari, Abu Bakar ash-Shiddiq mendatangi Sa'ad bin Abi Waqqash di tempat kerjanya dan membawa berita dari langit tentang diutusnya Nabi Muhammad Saw, sebagai rasul-Nya.

Ketika Sa'ad bin Abi Waqqash bertanya, "siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Nabi Muhammad Saw," maka Abu Bakar mengatakan dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

Seruan tersebut mengetuk kalbu Sa'ad bin Abi Waqqash untuk menemui Nabi Muhammad Saw, lantas mengucapkan dua kalimat syahadat . Ia pun memeluk agama Allah saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia termasuk dalam deretan laki-laki pertama uang memeluk islam selain Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Zaid bin Haritsah.

Setelah memeluk islam, keadaan Sa'ad bin Abi Waqqaash tidak jauh berbeda dengan keislaman para sahabat lainya. Ibunya sangat marah dengan keislaman Sa'ad bin Abi Waqqash.

"Wahai Sa'ad, apakah engkau rela meninggalkan agamamu dan agama bapakmu, untuk mengikuti agama baru itu? Demi Allah aku tidak akan makan dan minum sebelum engkau meninggalkan agama barumu itu," ancam sang ibu.

Sa'ad bin Abi Waqqash menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku!"

Sang ibu tetap nekat,karena ia mengetahui persis bahwa Sa'ad bin Abi Waqqash sangat menyayanginya. Sang ibu mengira, hati Sa'ad bin Abi Waqqash akan luluh jika melihatnya dalam keadaan lemah dan sakit. Ia tetap mengancam akan terus melakukan mogok makan.

Namun Sa'ad bn Abi Waqqash lebih mencintai Allah dan rasul-Nya.

"Wahai ibunda, demi Allah, seandainya engkau memiliki 70 nyawa dan keluar satu persl satu, aku tidak akan pernah mau meninggalkan agamaku selamanya!" tegas Sa'ad bin Abi Waqqash.

Akhirnya, sang ibu yakin anaknya tidak mungkin kembali seperti sedia kala. Ia pun hanya dirundung kesedihan dan kebencian.

Allah Swt mengekalkan peristiwa yang dialami oleh Sa'ad bin Abi Waqqash dalam ayat al-Qur'an:

"Dan jika kedunanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik...." (Q.S Luqman : 15)

Sa'ad bin Abi Waqqash adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan orang yamg mula-mula terkena anak panah. Ia hampir selalu menyertai Nabi Muhammad Saw dalam setiap pertempuran.

Ia juga orang yang dijamin oleh Nabi Muhammad Saw dengan jaminan kedua orang tua beliau.

Dalam perang Uhud, Nabi Muhammad Saw bersabda "panahlah, wahai Sa'ad! Ayah dan Ibuku menjadi jaminan bagimu"

Sa'ad bin Abi Waqqash juga merupakan pemimpin perang ketika melakukan peperangan melawan kekaisaran Persia. Kepahlawanan Sa'ad bin Abi Waqqash tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan melawan tentara Persia di Qadisiyyah.

Baca juga: Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin

Peperangan ini termasuk salah satu peperangan terbesar umat Islam. Bersama 3000 pasukanya ia berangkat menuju Qadisiyyah.

Diantara mereka terdapat 99 veteran perang Badar, 300 orang lebih ikut Ba'iat Ridwan di Hudaibiyah, 300 orang diantara mereka ikut serta dalam Fathul Makkah bersama Nabi Muhammad Saw. Lalu ada 700 orang putra para sahabat. Serta, ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan.

Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah dekat Hira. Untuk melawan pasukan muslim, pasukan Persia yang siap tempur berjumlah 120.000 orang dibawah panglima kenamaan mereka, Rustum.

Sebelum berperang, atas instruksi Umar bin Khattab yang menjadi Khilafah saat itu, Sa'ad bin Abi Waqqash mengirim surat kepada Kaisar Persia, Yazdagird dan Rustum yang isinya ialah undangan untuk masuk Islam.

Delegasi pertama yang mengirim surat ialah An-Numan bin Muqarrin. Ia pulang dengan tangan hampa, dan malah menjadi bahan ejekan Yazdagird.

Delegasi kedua ialah Rubiy bin Aamir. Ia juga malah ditawari oleh Rustum keindahan duniawi. Namun Rubiy menjanjikan kepada mereka keindahan yang dimiliki oleh Allah Swt yaitu Surga. Akan tetapi mereka tetap pada pendirianya.

Mendengar hal itu, Sa'ad bin Abi Waqqash menangis karena harus terjadi perang. Saat itu Saal'ad tiba-tiba jatuh sakit karena memikirkan harus berperang yang akan mengakibatkan gugurnya banyak orang. Namun ia mulai berangsur sembuh karena dalam hatinya ia yakin bahwa hal tersebut memang sudah kehendak Allah dan juga sudah tertulis dalam kitab Zabur dan Alqur'an (Q.S al-Anbiya : 105) tentang bumi yang akan dikuasai oleh orang-orang Shalih.

Ia lalu bangkit berganti pakaian dan menunaikan sholat zuhur. Lantas dengan membaca takbir ia bersama pasukanya memulai peperangan tanpa henti selama 4 hari.

Peperangan menimbulkan korban 2000 muslim dan 10.000 orang Persia. Dan akhirnya dimenangkan oleh kubu muslim.

Peperangan Qadisiyyah merupakan salah satu peperangan terbesar karena korban yang gugur lebih 30.000 orang.

Sa'ad bin Abi Waqqash juga salah satu sahabat yang dijanjikan masuk surga sebagai mana yang diceritakan oleh Anas bin Malik ra.

Nabi bersabda, "sebentar lagi akan muncul laki-laki penghuni surga dihadapan kalian"

Tiba-tiba datanglah Sa'ad bin Abi Waqqash. Hal itu terjadi berulang sampai tiga kali dan tiga hari.

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa'ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki umur 80 tahun. Dalam keadaan sakit, ia berpesan kepada para sahabatnya, agar ia dikafani dengan jubah yang dikenakanya dalam Perang Badar.

Akhirnya Sang Pemanah pertama Saad bin Abi Waqqash menghembuskan napas terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dikuburkan di pequburan Baqi makam para Syuhada'.

-Para Sahabat Nabi-
Oleh Abdurrahman bin Abdul Qarim
Read more