Saturday, 21 October 2017

Dalil Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW

Dalil Maulidiyah

Nabi Muhammad lahir pada hari Senin 20 April 571 M atau 12 Rabiul awwal tahun Gajah di kota Makkah, dari pasangan Sayyid Abdullah bin Abdul Mutholib dan Sayidah Aminah binti Wahhab. Beliau wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awwal 11 H atau 8 Juni 632 M.

Beliau merupakan seorang Nabi dan juga Rasul yang terakhir (Khotamul Anbiya'). 

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا اَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُوْلُ اللَّهِ وَخَتَمَ النَّبِيِّيْنَ

Artinya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu. Tetapi, ia adalah Rasulullah dan penutup para nabi-nabi" (Q.S Al-Ahzab : 40)

Beliau juga merupakan tuanya para Nabi dan Rasul. Kedatanganya merupakan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Beliau juga diutus untuk seluruh alam semesta dan memberi rahmat kepada mereka (Rohmatan Lil 'alamin).

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Artinya: "Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" (Q.S Al-Anbiya' : 107)

Beliau juga satu-satunya Rasul yang kelak akan memberi Syafa'at (pertolongan) di hari kiamat.  Maka, tak salah bila kita sebagai umatnya selalu mengagungkan dan mencintainya dengan sepenuh jiwa raga, sebagai sarana untuk mencapai kecintaan kepada Allah swt.

Banyak cara yang kita lakukan untuk mewujudkan kecintaan kepada beliau, seperti mengikuti ajaran-ajaranya, meniru sifat-sifat beliau yang agung, juga membaca shalawat.


Membaca shalawat juga merupakan kegiatan rutinitas umat muslim untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad saw pada bulan Rabiul 'Awwal. 

Acara ini,biasanya dimulai dengan pembacaan Al Barjanji, Mauliddiba' atau bacaan lain yang menuturkan sejarah ringkas Rasulullah saw.

Lalu, bagaimana pendapat para ulama' dengan perayaan tersebut?

Dalil tentang Maulidiyah


Sebenarnya, permasalahan diatas sudah pernah ditanyakan kepada Imam Jalaluddin as-Suyuthi 5 abad lalu, beliau menjawab bahwa maulid nabi merupakan Bid'ah Khasanah.


Alasanya, karena merupakan suatu kegiatan perwujudan untuk mengagungkan ketinggian derajat baginda Nabi Muhammad saw. Dan, orang yang melakukan hal tersebut, ia akan mendapat pahala.

Keterangan ini diambil dari kitab al-Hawi Lil Fatawi juz 1, hal 251-252. Bahkan, peringatan nabi juga merupakan kegembiraan umat atas terutusnya beliau baik sebagai rasul maupun sebagai penyelamat di hari kiamat kelak. Yang mana, kegembiraan tersebut diisi dengan pembacaan ayat-ayat alqur'an, sholawat dan sejarah ringkas beliau seperti yang disebutkan diatas. 

Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا

Artinya: "Katakanlah (Muhammad) sebab fadlal dan rahmat Allah (kepada kalian). Maka, bergembiralah kalian" (Q.S Yunus : 58)

Ayat diatas memerintahkan agar kita bergembira apabila mendapat anugerah dari Allah. Tentu saja, dengan cara dan hal-hal yang positif seperti sedeqah, membaca ayat suci bersama, dan lain-lain.

Asal usul Maulidiyah

Memang, kegiatan Maulidiyah ini bukan dari ajaran Rasulullah. Melainkan, dirintis oleh raja Muzhaffar Abu Said al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin.

Beliau, merupakan seorang raja yang shaleh dan bermahdzab Ahl Sunnah dan terkenal sangat pemurah lagi baik hati. 

Hal ini seperti keterangan al-Haawi li al-Fatawi juz 1 hal 252. Akan tetapi, peringatan hari kelahiran nabi Muhammad saw udah ada sejak dahulu. Pada saat beliau lahir, hanya saja beda dalam pelaksanaanya.

Abi Qatadah meriwayatkan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَْهِ وَسَلّمَ سُئِلَ عَنْ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدَةْ وَفِيْهِ أُنْزَلُ عَلَيَّ

Artinya: " Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari senin, maka beliau menjawab, "pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku" (H.R Muslim)

Betapa, Rasulullah sangat mengagungkan hari beliau lahir, maka wajarlah bila kita sebagai umatnya mengikuti apa yang telah menjadi kebiasaan beliau. Meskipun caranya berbeda . Akan tetapi, dalam acara Maulidiyah ini di isi dengan kegiatan-kegiatan ibadah yang dianjurkan Syari'at.

Dan lagi, ulama membenarkan penghormatan dengan cara demikian. Mereka adalah Sayyid Muhammad al-Alawi dalam Mafahim Yajibu an Tushohah hal 224-226. Dan pendapat Imam Ibnu Taimiyah dalam Manhaj as-Salaf fi fahm al-Nushus bain al-Nazhariyyah wa al-Thatbiq hal 399.

Mengenai berdiri ketika Mahallul Qiyam hal ini juga sesuai anjuran nabi, nabi menganjurkan bahwa ketika kedatangan orang agung, maka berilah penghormatan kepadanya dengan berdiri. 

Nabi Muhammad saw bersabda:

قُومُوْ إِلَى سَيِّدِكُمْ اَوْ خَيْرِكُمْ

Artinya: "Berdirilah kamu untuk tuan kalian atau orang yang paling baik diantara kamu" (H.R Abu Said Al-Khudzri dalam Shahih Muslim)

Read more

Thursday, 19 October 2017

Sejarah Kerajaan Islam Pertama di Sumatera

Pada dasarnya, daerah Sumatera itu memang menjadi daerah yang sering disinggahi oleh para pedagang asing. Umumnya, mereka tertarik oleh hasil pertanian di daerah ini. Hasil bumi ini, seperti pala dan cengkeh yang berasal dari daerah Maluku.

Para pedagang asing yang datang pada daerah ini, biasanya para pedagang-pedagang muslim. Maka dari itu lambat laun, daerah Sumatera ini sebagian penduduknya terpengaruh oleh Agama Islam

Kerajaan Islam pertama di Sumatera

Umumnya, sebuah kerajaan islam ini bermula dari pengaruh para pedagang asing yang sebagian besar beragama islam. Para pedagang ini kemudian mulai membawa pengaruh kepada penduduk sekitar khususnya ialah Sumatera.

Umumnya, mereka tertarik karena keramah tamahan para pedagang. Lalu, dengan sukarela mereka masuk islam. Para penduduk yang beragama islam, kemudian membuat komunitas-komunitas islam lalu kemudian membuat sebuah kerajaan.

Baca juga: Sejarah masuknya Islam ke Indonesia

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan islam pertama di Indonesia ialah Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur Laut Aceh.

Kerajaan Samudera Pasai

Kemunculanya sebagai kerajaan islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim.

Raja pertama kerajaan Samudera Pasai ialah Malik Al-Saleh. Hal ini diketahui melalui tradisi Hikayat Raja-raja Pasai.

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk islam berkat pertemuanya dengan Syaikh Ismail seorang utusan Syarif Mekkah, yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Saleh.

Merah Selu adalah Putra Merah Gajah. Nama Merah merupakan gelar bangsawan yang lazim di Sumatera Utara.

Dari hikayat tersebut terdapat petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudera Pasai ialah Muara Sungai Peusangan. Ini, merupakan sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai dan muah bagi perahu-perahu maupun kapal-kapal mengayuhkam dayungnya ke pedalaman.

Pendapat bahwa Islam sudah berkembang disana sejak abad ke-13 M ini didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutlah. Seorang pengembara yang terkenal berasal dari Maroko. Ia mengunjungi Samudera Pasai pada abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 H).

Dalam kehidupan perekonomianya, kerajaan maritim ini tidak mempunyai basis agraris. Basis perekonomianya ialah perdagangan dan pelayaran. Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran itulah yang menjadi sendi-sendi penghasilan bagi kerajaan.

Samudera Pasai pada masa itu juga sudah mempunyai sebuah mata uang dirham. Mata uang dirham tersebut pernah diteliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti kerajaan Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama-nama Sultan Alaudin, Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah.

Pada tahun 1973 M ditemukan lagi 11 mata uang diantaranya bertuliskan atas nama Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah, semuanya adalah raja-raja Samudera Pasai pada abad ke-14 dan 15 M.

Kerajaam Samudera Pasai ini berlangsung sampai tahum 1524 M. Pada tahun 1521 M kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun. Kemudian, tahun 1524 M di Aneksasi oleh raja Aceh. Kemudian Samudera Pasai berada di bawah Kasultanan Aceh Darussalam.

Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaam Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama kabupaten Aceh besar. Disini pula terletak ibukotanya. 

Kasultanan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M diatas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M). Dialah yang membangun kota Aceh Darussalam.

Menurut H.J de Graaf  Aceh darussalam menerima islam dari Pasai yang menjadi wilayah bagian Aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14 M.

Menurutnya, Aceh merupakan penyatuan dua kerajaan kecil yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal. Ia juga berpendapat bahwa rajanya yang pertama ialah Ali Mughayat Syah.

Ali Mughayat Syah memperluas wilayah kekuasaanya ke daerah Pidie yang bekerja sama dengan Portugis. Kemudian ke Pasai pada tahum 1524 M. Dengan kemenangan dari dua kerajaan tersebut, Aceh dengan mudah melebarkan sayap ke daerah Sumatera Timur.

Peletak dasar kebesaran kerajaan Aceh ialah Sultan Alaudin Riayat Syah ia bergelar Al Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis, ia menjalin hubungan dengan Kerajaan Usmani di Turki.

Dengan bantuan kerajaan tersebut Aceh dapat membangun angkatan perangnya dengan baik. Tampaknya Aceh pada saat itu mengakui Kerajaan Usmani merupakan kedaulatan tertinggi.

Puncak kekuasaan Kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608-1637 M). Pada masanya, Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir timur dan barat Sumatera.

Tidak seperti Iskandar Muda yang memerintah dengan tangan besi, penggantinya Iskandar Tsani bersikap lebih liberal, lembut dan adil. Pada masanya, Aceh terus berkembang hingga beberapa tahun.

Pengetahuan agama maju dengan pesat. Akan tetapi, kematianya diikuti oleh masa-masa bencana. Tatkala beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699. Beberapa wilayah taklukanya lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah. Sehingga menjelang abad ke-18 M kasultanan Aceh merupakan bayangan belaka dari masa silam.

-Sejarah Peradaban Islam-
Oleh Dr. Badri Yatim, M.A.
Read more

Tuesday, 17 October 2017

Cara Dzikir dan Doa Sesudah Sholat Ala Rasulullah

Cara Dzikir dan Doa

Bagaimana cara dzikir rasulullah?

Dzikir adalah amalan yang disunnahkan pada setiap waktu, terkecuali pada waktu dan tempat yang telah dilarang untuk berdzikir. Seperti: saat buang hajat, berjimak, saat mendengarkan khutbah dan sebagainya.

Berdzikir hendaknya tidak tertuju pada bacaan tasbih, tahlil, dan takhmid saja. Akan tetapi lebih kepada makna-makna lain dzikir yang lebih luas.

Sahabat Said bin Jubair ra menerangkan bahwa orang yang berdzikir adalah orang yang melakukan perbuatan karena Allah dengan taat. Mengingat arti dzikir sendiri ialah mengingat.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذيْنَ أَمَنُوْا اذْكُرُواللَّهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا وَسَبِّحُوْا بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Artinya: "Hai sekalian orang yang mukmin, ingatlah Allah sebanyak-banyaknya dan tasbihlah memuji Allah pagi-pagi dan petang-petang" (Q.S Al-Ahzab : 41-42)

Dzikir dan doa sesudah shalat ala rasulullah

Dari sekian banyak waktu, waktu yang paling utama untuk berdzikir ialah sesudah shalat fardlu. Hal ini berkaitan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Umamah ra.

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ جَوْفُ الَّيْلِ الْأَخِرِ وَدُبُرِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ

Artinya: "Dikatakan kepada Rasulullah saw: Doa manakah yang paling di dengar? Nabi berkata: tengah malam yang akhir dan setelah sholat wajib" (HR. Abu Umamah ra)

Dzikir atau wirid setelah sholat ini sudah disyariatkan semenjak baginda Nabi Muhammad saw masih hidup. Dan oleh para ulama khususnya ulama indonesia terdahulu kebiasaan Rasulullah ini tetap dilestarikan.

Sehingga, menjadi semacam adat atau kebiasaan sampai saat ini. Dzikir tersebut ialah membaca istighfar 3x sampai doa setelah sholat. Jadi, semuanya bersumber dari Nabi Muhammad saw.

Baca juga : Fadzilah Istighfar

Lihatlah beberapa hadits nabi berikut ini:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إَذَا إِنْصَرَفَ إِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ أَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ
تَبَارَكْتَ يَا ذَالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Artinya: "Ketika Rasulullah selesai dari sholatnya, ia lalu membaca istighfar 3x dan ia mengucapkan Allahumma antassalamu wa minkassalamu tabaarakta yaa dzaljalaali wal ikram" (HR. Tsauban ra)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

مَنْ سَبَّحَ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَحَمِدَ اللَّهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَكَبَّرَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِأَةِ لَاإِلَاهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ غُفِرَةْ خَطَيَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلُ زَبَدِ الْبَحْرِ

Artinya: "Barangsiapa membaca Tasbih 33x, Tahmid 33x, Takbir 33x  dan sebagai penyempurna membaca Laa ilaaha illahu wahdahu laa sariikalah lahulmulku walahul hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa 'ala kulli saiin qodiir, maka kesalahanya akan diampuni meskipun seperti buih air laut" (HR. Abu Hurairah ra)

Tata cara berdzikir


Adapun mengenai tata cara berdzikir, itu ada yang berdzikir dengan suara keras ada pula yang berdzikir siir (samar). Ada pula yang berdzikir dengan cara sendiri dan ada pula yang dilakukan secara berjamaah.

Dalam kitab Al Adzkar karangan Imam Nawawi, mengenai berdzikir bisa dilakukan dengan hati atau dengan lisan. Dan yang lebih utama adalah berdzikir dengan menggabungkan hati dan lisan.

Jika hanya dengan salah satunya saja, maka lebih utama dengan hati. Karena, lebih jauh dengan perbuatan riya'. Dan juga, karena tujuan dzikir adalah menghadirkan hati untuk dekat dengan Allah swt.

Rasulullah saw bersabda:

أُذْكُرُ اللَّهَ ذِكْرًا خَامِلًا. قِيْلَ وَمَا ألذِّكْرُ الْخاَمِلْ؟ قَالَ الذِّكْرُ الْخَفِيُّ

Artinya: "Ingatlah kamu kepada Allah dengan dzikir khomil. Apa itu dzikir khomil? Nabi berkata, dzikir khomil ialah dzikir yang samar"

Hadits ini menerangkan keutamaan dzikir khommil atau pelan. Akan tetapi, para ulama ahli tasawuf menerangkan bahwa cara yang demikian tersebut bagi orang yang sudah terbiasa, artinya jika belum terbiasa maka lebih baik dengan keras karena lebih bisa menolong hati untuk berdzikir.

Baca juga: Keutamaan dzikir dan tahlil

Dzikir berjamaah

Mengenai sendirian atau berjamaah dalam berdzikir, sebagian ulama berpendapat bahwa lebih utama berjamaah. Karena berjamaah diibaratkan sebagai penumpang suatu kendaraan. Meskipun ada yangvtertidur, maka akan tetap sampai tujuan sama-sama

Nabi bersabda:

لَايَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللَّهَ تَعَالَى إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَسِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَة عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Artinya: "Tidaklah suatu kaum yang duduk dan mengingat Allah ta'ala kecuali para malaikat mengelilingi dan memberikan rahmat kepada mereka, dan turunlah ketenangan hati mereka. Dan meteka diingat oleh Allah dihadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya" (HR. Abi Said Al-Khudri dan Abi Hurairah ra)

Hadits tersebut menerangkan keutamaan suatu kalangan, yang dimana mereka akan diberi rahmat dan ketenangan untuk kalangan tersebut.

Jika melihat keterangan di atas ini, jelaslah bahwa dzikir setelah sholat dengan keras dan secara berjamaah sangatlah banyak keunggulanya dibanding dengan dzikir secara pelan dan sendirian.

Keuntungan dzikir secara keras diantaranya lebih bisa menolong hati untuk khusyu' dan lwbih menunjukkan syiar kepada agama islam. Sedangkan dengan berjamaah juga bisa membangkitkan semangat, karena sudah mwnjadi watak manusia bila melakukan sesuatu secara bersama-sama akan lebih bersemangat.
Read more

Saturday, 14 October 2017

Kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa

Demak
masjid agung Demak
Perkembangan islam di pulau Jawa ini, dimulai dari melemahnya posisi raja Majapahit. Hal ini memberi peluang kepada penguasa-penguasa Islam di pesisir untuk membangun kekuasaan yang independen. Berikut ini kerajaan-kerajaan islam di pulau Jawa.

  • Demak
Kerajaan islam pertama yang berdiri di pulau Jawa ialah kerajaan Demak. Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak. 

Raja pertama ini bergelar Senopati Jimbun Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.

Dalam menjalankan pemerintahanya, terutama dalam persoalan agama, Raden Patah ini dibantu oleh Wali Songo. Sebelumnya, Demak yang masih bernama Bintoro, merupakan daerah Majapahit. Kemudian, diberikan oleh raja Majapahit kepada Raden Patah. Yang lambat laun, akhirnya menjadi pusat perkembangan agama islam.

Pemerintahan Raden Patah berlangsung kira-kira di akhir abad ke-15 hingga awal abad 16. Dikatakan, ia adalah seorang anak raja Majapahit dari seorang ibu muslim keturunan Campa. Ia, kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Sambrang Lor, dan juga dikenal dengan nama Pati Unus.

Menurut sejumlah ilmuwan, Pati Unus waktu pertama dilantik masih berumur 17 tahun. Tidak lama setelah naik tahta, kemudian ia merencanakan penyerangan kepada Malaka. Akan tetapi, pada tahun 1512-1513, tentaranya mengalami kekalahan besar.

Pati Unus, kemudian digantikan oleh Trenggono yang dilantik langsung oleh Sunan Gunung Jati dan diberi gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Ia memerintah selama 1524-1546. Pada masa inilah perkembangan islam sangat cepat dan meluas ke seluruh tanah Jawa, bahkan sampai ke Kalimantan Selatan.

Kala itu, Demak berhasil menguasai Tuban tahun 1527. Selanjutnya paa tahun 1529 Demak menundukkan Madiun, Blora (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), dan antara tahun 1541-1542 Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan Kediri (1544). Palembang dan Banjarmasin juga ikut ditaklukkan.

Selanjutnya, daerah Jawa Tengah sekitar gunung Merapi juga berhasil dikuasai berkat pemuka agama bernama Syekh Siti Jenar dan Sunan Tembayat. 

Dalam penyerbuan ke Blambangan Sultan Trenggono terbunuh kemudian dugantikan Prawoto. Akan tetapi kekuasaanya tidak lama karena terjadi pemberontakan di dalam kerajaan. Prawoto dibunuh oleh Aria Penangsang penguasa daerah Pajang. Dengan demikian kekuasaan kerajaan Demak berakhir dan dilanjutkan oleh Jaka Tingkir penguasa kerajaan Pajang yang berhasil mengalahkan Aria Penangsang.

  • Pajang
Kasultanan Pajang adalah pelanjut dan dipandang pewaris kerajaan Islam Demak. Kasultanan ini terletak di daerah Kartasura. Usia kasultanan ini tidak berlangsung lama.

Sultan pertama yang memimpin kerajaan ini ialah Jaka Tingkir. Beliau diangkat oleh sultan Trenggono setelah sebelumnya dikawinkan dengan putrinya.

Setelah menjadi raja, Jaka Tingkir bergelar Sultan Adiwijaya. Lalu titik pusat pemerintahan Demak olehnya, di pindah ke Pajang.

Selama masa pemerintahan Sultan Adiwijaya, kasusastran dan kesenian keraton yang sudah maju di Demak memang dikenal oleh masyarakat pedalaman di pulau Jawa. Pengaruh agama Islam juga mulai menjalar dan tersebar ke seluruh pedalaman.

Sultan Pajang meninggal dunia tahun 1587 dan digantikan oleh menantunya Aria Pangiri anak susuhunan Prawoto penguasa kerajaan Demak. Waktu itu Aria Pangiri menjadi penguasa kerajaan Demak setelah sebelumnya menetap di Pajang. Oleh karenanya, kerajaan Pajang kemudian diberikan kepada anak sultan Adiwijaya yaitu Pangeran Banawa.

Karena pangeran Demak masih muda dan tidak puas, maka ia meminta kepada penguasa kerajaan Mataram untuk mengusir raja Pajang yang baru. Pada tahun 1588 akhirnya usaha itu berhasil.

Sebagai gantinya, Pajang diberikan kepada pihak Mataram. Pada tahun 1618 Pajang memberontak kepada Mataram yang ketika iti di bawah pimpinan Sultan Agung. Akhirnya Pajang dihancurkan dan rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.


  • Mataram
Mataram Jogja
Jogjakarta atau Mataram
Awal dari kerajaan Mataram ialah ketika Sultan Adiwijaya atau Jaka Tingkir meminta bantuan kepada Ki Pamanahan untuk menghadapi dan menumpas kekuasaan Aria Penangsang penguasa Demak.

Sebagai hadiahnya, akhirnya Ki Pamanahan diberi hadiah daerah Mataram. Lalu akhirnya Ki Gede Pamanahan yang menurunkan raja-raja Mataram Islam kemudian.

Pada tahun 1577 M ia menempati kursi kekuasaannya. Barulah pada tahun 1584 ia digantikan oleh anaknya Banawa yang berhasilkan mengalahkan kerajaam Pajang atas permintaan raja Demak waktu itu.

Sebagai hadiahnya, sebenarnya Banawa telah diberi kekuasaan atas Pajang, akan tetapi ia tidak mau dan hanya membawa pusaka Gong Kiai Sekar Delima, Kendali Ki Macan Guguh, dan Pelana Kiai Jatayu. Namun, penyerahan benda pusaka pada adat Jawa Timur sama saja penyerahan kekuasaan.

Banawa kemudian berkeinginan menguasai juga daerah jajahan Pajang. Tetapi, ia tidak mendapat pengakuan atas raja-raja di Jawa Timur atas penguasa pengganti kerajaan Demak. Melalui peperangan berat, barulah ia berhasil menguasai sebagian. 

Pada tahun 1601 Banawa meninggal dunia, dan kekuasaan diberikan kepada anaknya M. Seda Ing Krapyak. Ia memerintah hingga tahun 1613. Kemudian digantikan lagi oleh Sultan Agung. Pada tahun 1619 seluruh daerah Jawa Timur praktis dibawah kekuasaanya.

Masa pemerintahan Sultan Agung ini juga awal mula terjadi kontak senjata dengan VOC. Pada tahun 1630 Sultan Agung menetapkan Amangkurat I sebagai putra mahkota. Dan pada tahun 1646 Sultan Agung wafat lalu di makamkan di Imogiri. 

Masa pemerintahan Amangkurat I ini tidak pernah reda konflik. Dalam setiap konflik yang terjadi, pasti mereka didukung oleh para Ulama. Akibatnya Amangkurat I membunuh banyak para Ulama yang ia curigai.

Tindakan pertamanya ialah menumpas pendukung Pangeran Alit. Ia yakin Ulama dan Santri adalah bahaya bagi takhtanya. Sekitar 5000-6000 ulama beserta keluarganya dibunuh kala itu (1647 M).

Pada tahun 1677 M dan 1687 M pemberontakan para Ulama muncul dengan tokoh Raden Kajoran. Pemberontakan itulah yang menyebabkan kerajaan Mataram hancur.

  • Cirebon
Sultan pertama kerajaan Cirebon adalah Sunan Gunung Jati. Di awal abad ke-16, Cirebon masih merupakan daerah kekuasaan Pajajaran. Raja Pajajaran hanya menempatkan seorang labuhan di sana bernama Walangsungsang.

Walangsungsang merupakan seorang tokoh yang masih mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran. Ketika berhasil memajukan Cirebon, ia sudah menganut agama islam.

Akan tetapi, orang yang berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif Hidayatullah dan bergelar Sunan Gunung Jati yang kala itu resmi sebagai pengganti dari Walangsungsang dan masih merupakan keponakan dari pangeran Walangsungsang.

Sunan Gunung Jati juga merupakan pendiri dunasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.

Sebagai keponakan dari pangeran Walangsungsang, Sunan Gunung Jati juga mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi. Siliwangi ini menikah dengan Nyai Subanglarang dan mempunyai tiga putra yakni Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Sengara. Sunan Gunung Jati ini ialah pura dari Nyai Lara Santang dan Maulana Sultan Mahmud alias Syarif Abdullah dari Bani Hasyim ketika Lara Santang naik haji.

Karena kedudukanya sebagai Wali Songo, Sunan Gunung Jati di hormati oleh raja-raja lain seperti Demak dan Pajang. Sunan Gunung Jati ini lahir 1448 M dan wafat 1568 M dalam usia 120 tahun.

Dasar pengembangan islam dan perdagangan kaum muslimin di Banten diletakkan di Cirebon oleh Sunan Gunung Jati. Dan daerah kekuasaan Banten diberikan kepada anaknya Sultan Hasanuddin. Sultan inilah yang menurunkan raja-raja Banten. Ditangan kerajaan Banten juga Pajajaran berhasil dikalahkan.

Setelah Sunan Gunung Jati wafat ia digantikan oleh cicitnya yang terkenal dengan Pangeran Ratu. Beliau wafat pada tahun 1650 M dan digantikan oleh putranya yang bergelar panembahan Girilaya.


  • Banten
pelabuhan Banten
Pelabuhan Banten
Sejak sebelum zaman islam, dan dibaah kekuasaan raja Pajajaran atau mungkin sebelumnya, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Karena, Sunan Gunung Jati telah meletakkan dasar pengembangan islam di daerah ini dengan pengembangan perdagangan lewat pelabuhan di ujung barat pantai Jawa.

Untuk menyebarkan islam di Jawa Barat, langkah Sunan Gunung Jati ialah menduduki pelabuhan Sunda tahun 1527. Ia memperluas kekuasaanya atas kota-kota pelabuhan Jawa Barat lain yang semula termasuk Pajajaran.

Setelah ia kembali ke Cirebon, daerah kekuasaan diberikan kepada puranya Sultan Hasanuddin. Hasanuddin sendiri kawin dengan putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten tahun 1522. Ia meneruskan ayahnya meluaskan daerah islam ke Lampung, dan di sekitarnya Sumatera Selatan.

Pada tahun 1568 di saat kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Hasanuddin memerdekakan Banten. Itulah sebabnya oleh tradisi ia dianggap raja Islam pertama di Banten. Banten memang semula merupakan vassal dari Demak.

Hasanuddin wafat kira-kira tahun 1570 dan digantikan anaknya Yusuf. Sembilan tahun berkuasa, Yusuf menaklukan Pakuwan yang saat itu belum masuk islam. Kala itu, Pakuwan masih menguasai daerah pedalaman Jawa Barat. Sesudah Ibukota jatuh dan raja beserta keluarga menghilang, golongan bangsawan Sunda masuk islam.

Setelah Yusuf meninggal, tahun 1580 ia digantikan putranya Muhammad yang masih di bawah umur. Akhirnya kekuasaan di bawah pemerintahan jaksa agung beserta empat pembesar lainya. Raja Banten yang saleh ini melanjutkan penyebaran islam dan menaklukkan Palembang pada 1596. Ia wafat pada usia 25 tahun.

Ia meninggalkan anak usia 5 bulan Sultan Abdul Mafakhir Muhammad Abdulkadir.

Sebelum memegang kekuasaan ia masih berada di bawah 4 orang wali laki-laki dan seorang wali wanita. Ia baru aktif memegang kekuasaan tahun 1626 dan oada tahun 1638 mendapat gelar Sultan Makkah. Dialah raja Banten dengan gelar sultan pertama.

Pada tahun 1651 ia meninggal dan digantikan cucunya Sultan Abdulfath. Sultan ini yang beberapa kali melakukan perang melawan VOC yang berakhir dengan perjanjian damai tahun 1659 M.

-Sejarah Peradaban Islam-
Oleh Dr. Badri Yatim, M.A
Read more